“Kalau memang mengaku saudara, seharusnya hadir. Tapi sampai proses autopsi sore hari, dia tidak datang. Itu juga menjadi pertanyaan bagi kami,” kata Tiwi.
Fakta Satu Kartu Keluarga dengan AKBP Basuki
Di tengah pengusutan polisi, keluarga dikejutkan oleh temuan lain, Levi rupanya tercatat dalam satu Kartu Keluarga (KK) yang sama dengan AKBP Basuki, perwira yang menjadi saksi pertama penemuan jenazah.
“Iya, korban satu KK dengan saksi pertama. Katanya sebagai saudara,” tutur Tiwi.
Kecurigaan muncul ketika adik Tiwi mencoba mencocokkan alamat Levi dengan alamat AKBP Basuki. Keduanya ternyata sama.
“Korban dimasukkan ke KK saksi pertama karena alasannya supaya bisa mengurus perpindahan KTP ke Semarang. Tapi selama ini korban tidak pernah bercerita soal hubungan kedekatan dengan polisi itu,” tambahnya.
Bagi keluarga, fakta itu menambah daftar panjang tanda tanya, terlebih Levi selama ini dikenal sebagai perempuan lajang yang lebih banyak menutup kehidupan pribadinya.
Selama merantau di Semarang, Levi sebenarnya memiliki kamar kos sendiri yang lokasinya tidak jauh dari kostel tempat ia meregang nyawa.
Belakangan, ia memang disebut kerap keluar-masuk kostel tersebut, namun keluarga mengaku tak pernah mendapat penjelasan detail.
“Sepengetahuan kami, selama di Semarang dia tidak punya riwayat penyakit berat. Dia terlihat sehat,” kata Tiwi.
Keluarga kini menunggu hasil resmi autopsi dari RSUP Dr Kariadi sebelum menentukan langkah hukum selanjutnya.
“Keluarga besar masih berembuk. Semua menunggu hasil autopsi,” ujarnya.
Mahasiswa Datang ke Polda: “Justice for Levi”
Desakan agar kasus Levi diusut terang benderang tidak hanya datang dari keluarga.
Puluhan mahasiswa Untag Semarang juga mendatangi Mapolda Jawa Tengah, Rabu (19/11/2025), membawa spanduk kain putih bertuliskan “Justice for Levi” dengan cat hitam merah.
Mewakili mahasiswa, Antonius Fransiskus Polu mengungkapkan bahwa mereka menerima informasi hasil awal autopsi yang menyebut adanya aktivitas fisik berlebihan sebelum pembuluh darah di jantung Levi pecah.
Namun, kata Antonius, justru di situlah mahasiswa menemukan kejanggalan lain.
“Beliau siang sempat periksa ke rumah sakit, punya riwayat darah tinggi. Tapi kemudian ditemukan tergeletak tanpa busana di lantai kamar. Itu yang menurut kami tidak nyambung dan perlu dijelaskan secara terang,” ujarnya di depan Kabid Humas Polda Jateng Kombes Artanto, Dirreskrimum Kombes Dwi Subagio, dan Kabid Propam Kombes Saiful, yang menerima audiensi mereka.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.