MENU
Anak Muda Lebih Nyaman Curhat ke AI, Studi Ungkap Dampaknya
WA FB
Berita

Anak Muda Lebih Nyaman Curhat ke AI, Studi Ungkap Dampaknya

T Editor : Tumpal Pandapotan | 24 Dec 2025 | 08:01 WIB
Anak Muda Lebih Nyaman Curhat ke AI, Studi Ungkap Dampaknya
Gambar ilustrasi. AI

Pematangsiantar, Sinata.id – Maraknya penggunaan chatbot berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di kalangan anak muda mulai menimbulkan kekhawatiran para ahli.

Teknologi yang awalnya dimanfaatkan untuk mencari informasi kini berkembang menjadi tempat curhat, pendamping emosional, bahkan pengganti interaksi sosial bagi sebagian generasi muda.

Peneliti dari University College London menilai tren tersebut berpotensi menghambat kemampuan anak muda dalam membangun hubungan emosional jangka panjang dengan sesama manusia.

Temuan itu disampaikan dalam riset terbaru yang dipublikasikan di jurnal British Medical Journal.

Para peneliti menyoroti bahwa chatbot menawarkan respons instan, kesabaran tanpa batas, dan hampir tidak pernah memberikan pandangan yang menantang.

Kondisi ini dinilai berbeda jauh dengan interaksi antarmanusia yang sarat dinamika emosional dan timbal balik.

“Kita berisiko menyaksikan generasi yang belajar membangun ikatan emosional dengan entitas yang tampak sadar, tetapi sebenarnya tidak memiliki empati dan kepekaan relasional seperti manusia,” tulis tim peneliti.

Fenomena ini juga dikaitkan dengan meningkatnya penggunaan chatbot sebagai sarana terapi dan pendampingan psikologis. Para ahli menilai kondisi tersebut menjadi sinyal peringatan atas meluasnya rasa kesepian di masyarakat modern.

Dalam kajian tersebut, peneliti melakukan meta-analisis terhadap berbagai studi terkait penggunaan AI dan dampaknya secara psikologis maupun sosial.

Salah satu studi dari OpenAI yang melibatkan 980 pengguna ChatGPT menemukan bahwa individu dengan durasi penggunaan tertinggi dalam satu bulan cenderung mengalami tingkat kesepian yang lebih besar dan berkurang intensitas bersosialisasinya.

Penelitian itu juga menunjukkan bahwa pengguna yang mengaku mempercayai chatbot sebagai tempat bergantung emosional memperlihatkan tanda-tanda keterikatan dan kesepian yang lebih kuat.

Temuan serupa diperkuat riset Common Sense Media yang menyebut satu dari 10 anak muda merasa percakapan dengan AI lebih memuaskan dibandingkan berbicara dengan manusia.

Bahkan, satu dari tiga responden menyatakan lebih memilih pendamping AI untuk percakapan serius.

Para peneliti menekankan pentingnya kajian lanjutan untuk mengidentifikasi pola penggunaan yang bersifat kompulsif.

Indikator yang perlu dicermati antara lain kecenderungan menyebut chatbot sebagai “teman”, membangun keterikatan emosional berlebihan, hingga menyerahkan pengambilan keputusan penting kepada AI.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.