MENU
Anggota DPR RI: Jangan Remehkan Dinamika Geopolitik Timur Tengah
WA FB
News

Anggota DPR RI: Jangan Remehkan Dinamika Geopolitik Timur Tengah

G Editor : Gunawan Purba | 14 Mar 2026 | 10:15 WIB
Anggota DPR RI: Jangan Remehkan Dinamika Geopolitik Timur Tengah
Anggota Komisi XII DPR RI Jalal Abdul Nasir (Parlementaria)

Jakarta, Sinata.id - Situasi geopolitik yang berkembang di kawasan Timur Tengah dinilai memiliki dampak strategis terhadap kondisi ekonomi dan energi Indonesia.

Anggota Komisi XII DPR RI, Jalal Abdul Nasir, mengingatkan pemerintah agar tidak menganggap dinamika di kawasan tersebut sebagai isu yang jauh dari kepentingan nasional.

Dalam keterangannya kepada Parlementaria di Jakarta, Jumat (13/3/2026), Jalal menilai ketegangan politik yang melibatkan negara-negara di kawasan Teluk dapat memengaruhi ketahanan energi, stabilitas fiskal, hingga daya beli masyarakat di dalam negeri.

“Perkembangan geopolitik di Timur Tengah tidak bisa dipandang sebagai persoalan yang jauh dari Indonesia. Dampaknya berpotensi langsung dirasakan pada sektor energi dan perekonomian nasional,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Indonesia hingga kini masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap impor energi. Konsumsi minyak nasional berada di kisaran 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri baru mencapai sekitar 600 ribu barel per hari.

Menurut politisi dari Partai Keadilan Sejahtera tersebut, kondisi tersebut menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi melalui impor, baik dalam bentuk minyak mentah maupun bahan bakar minyak (BBM) jadi. Situasi ini membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga energi di pasar global.

Ia juga menyoroti potensi gangguan distribusi energi dunia apabila terjadi ketegangan di jalur perdagangan minyak internasional. Salah satu titik strategis yang sering menjadi perhatian global adalah Selat Hormuz.

“Sekitar 20 hingga 30 persen perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Jika terjadi gangguan distribusi di kawasan tersebut, harga minyak global hampir pasti akan terdorong naik,” jelasnya.

Kenaikan harga minyak dunia, lanjut Jalal, dapat memberikan tekanan terhadap kondisi fiskal Indonesia. Dalam struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sektor energi masih menjadi komponen yang sensitif terhadap perubahan harga minyak.

“Setiap kenaikan sekitar 10 dolar AS per barel dapat meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi hingga mencapai triliunan rupiah. Pola ini sudah beberapa kali terjadi ketika eskalasi geopolitik meningkat,” katanya.

Selain berdampak pada fiskal negara, gejolak global juga berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan. Perubahan sentimen global kerap memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tag :
ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.