MENU
Antara Riya dan Representasi: Menimbang Fenomena Flexing di Media Sosi...
WA FB
Berita

Antara Riya dan Representasi: Menimbang Fenomena Flexing di Media Sosial

G Editor : Gunawan Purba | 05 Jun 2026 | 10:59 WIB
Antara Riya dan Representasi: Menimbang Fenomena Flexing di Media Sosial
Zanniro Sururi Hasibuan MSos

Namun, ekosistem yang tercipta bukan ruang diskusrsus yang sehat, melainkan arena sirkus informasi yang tidak sehat, yang hanya mempertahankan informasi terus tumbuh subuh tak henti mempertahankan hal yang paling berharga dalam ekonomi digital yaitu “Perhatian Manusia”.

Mengacu pada realitas kontemporer, flexing sangat erat kaitannya dengan influencer culture. Seseorang yang banyak pengikut cenderung membuild citra sebagai sosok yang sangat sempurna dimata manusia.

Pada hakikatnya manusia juga tentu memiliki prinsip hal yang akan dibagian di media sosial mengenai kondisi hidupnya yang tenang-tenang saja dan tanpa ada cacat sedikit pun.

Meski, sebagian orang tidak sedikit menjadikan permasalahan dirinya menjadi komoditas yang sangat laris dengan menjual kesedihan di arena virtual, karena audiens sangat menyukai hal yang memicu emosinya.

Sukses, mapan, inspiratif, kesedihan menjadi tontonan yang banyak disukai oleh audiens. Hal ini erat kaitannya dengan hiperrealitas yang dikemukakan Jean Baudrillard yang mana batas realitas dan representasi menjadi kabur. Sesuatu hal yang ditunjukkan di media sosial sering lebih nyata dibandingkan realitas itu sendiri, meski pada hakikatnya adalah konstruksi yang telah diseting dan direkayasa.

Fenomen flexing tidak bisa dibiarkan begitu saja, dalam pandangan psikologis paparannya akan memicu social comparison yang tidak sehat. Sesorang akan mengukur value dirinya dengan standar orang lain di media sosial, yang pada dasarnya itu tidak realistis.

Pencapaian yang dipamerkan membuat sesorang cemas, insecure bahkan tidak sedikit yang depresi dan melakukan hal kekerasan terhadap orang terdektannya demi memenuhi standar media sosial. Hal ini banyak ditemukan generasi muda melakukam tindakan yang tidak pantas karena kurangnya bekal dalam memahami ruang maya. Sehingga dengan kondisi seperti ini media sosial bun lagi arena komunikasi yang egaliter melainkan arena kompetisi simbolik yang sarat tekanan.

Mobil mewah, liburan ke luar negeri, barang baranded dan sejenisnya menjadi standar “kesuksesan”, akibatnya audiens terpancing untuk kaya instan. Sehingga banyak ditemukan anak muda tertipu akan muslihat yang tidak bertanggung jawab demi mencapai standar kesuksesan media sosial. Sehingga dalam etika komunikasi, hal ini berpotensi merusak komunikasi yang baik dan mengguras kepercayaan public. Pencitraan harusnya berada pada batas sewajarnya saja, jangan samp eke ranah ekploitasi persepsi public. Disinilah pentingnya litrasi media yang mampu mengarahkan individua tau Masyarakat untuk membedakan mana realitas dan representasi.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.