Salah satu pendorong kenaikan belanja adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah terealisasi Rp19,5 triliun pada Januari 2026. Sebagai perbandingan, realisasi Januari 2025 hanya Rp45 miliar.
Selain MBG, pemerintah juga mempercepat belanja untuk revitalisasi sekolah, bantuan sosial, pembangunan irigasi, ketahanan pangan, serta belanja pegawai.
Meski belanja meningkat, defisit APBN tetap terkendali. Defisit APBN tercatat Rp54,6 triliun atau 0,21 persen terhadap PDB, masih berada dalam koridor desain APBN 2026.
Purbaya optimistis APBN tetap menjadi instrumen utama menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026.
“Secara keseluruhan, APBN 2026 tetap berfungsi optimal sebagai shock absorber sekaligus motor penggerak ekonomi,” tegasnya.
Pembiayaan APBN 2026
Pemerintah memastikan pelaksanaan pembiayaan APBN 2026 berjalan on track, terukur, dan tetap menjaga kredibilitas fiskal.
Wamenkeu Juda Agung menyampaikan, hingga 31 Januari 2026 realisasi pembiayaan mencapai Rp105,06 triliun atau 15,2 persen dari target, lebih rendah dibandingkan realisasi Januari 2025 sebesar 29,6 persen.
Realisasi pembiayaan utang sebesar Rp127,3 triliun atau 15,3 persen dari target APBN 2026, juga lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 23,7 persen.
“Perkembangan ini menunjukkan strategi pembiayaan yang lebih terukur dan disesuaikan dengan kebutuhan kas pemerintah serta dinamika pasar keuangan,” ujar Juda.
Sebagian besar pembiayaan utang didukung pendanaan melalui pasar Surat Berharga Negara (SBN). Di tengah tekanan global, kinerja pasar perdana SBN domestik dinilai tetap solid.
Pada tiga lelang pertama Surat Utang Negara tahun 2026, rata-rata bid to cover ratio tercatat 2,2 kali. Untuk Surat Berharga Syariah Negara, rata-rata bid to cover ratio tiga lelang pertama mencapai 3,8 kali dengan yield tetap stabil.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi
Menkeu Purbaya optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 berada di kisaran 5,5–6 persen, lebih tinggi dibandingkan realisasi 4,87 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Salah satu indikator positif terlihat dari indeks manufaktur (PMI) Indonesia yang berada di zona ekspansi selama enam bulan berturut-turut. Selain itu, indeks kepercayaan konsumen (IKK) juga naik menjadi 134,8 poin dari sebelumnya 131,6 poin.
“Berbagai indikator ini memberi konfirmasi bahwa fondasi permintaan domestik tetap kokoh,” jelasnya.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.