Washington, Sinata.id - Pemerintahan Presiden Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan militer terbatas dalam beberapa hari ke depan sebagai langkah awal untuk menekan Iran, dan membuka opsi operasi skala besar pada akhir tahun ini yang bertujuan menggulingkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei jika negosiasi nuklir pekan ini gagal mencapai kesepakatan.
Rencana eskalatif itu diungkapkan oleh sejumlah sumber Amerika Serikat yang mengetahui jalannya diskusi internal di Gedung Putih kepada The New York Times, dan dikonfirmasi ulang oleh pelbagai sumber media internasional, Minggu (22/2/2026) waktu setempat.
Pertemuan kunci yang membahas opsi militer terhadap Teheran digelar di Ruang Situasi Gedung Putih pada Rabu lalu, dihadiri oleh Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, Direktur CIA John Ratcliffe, serta Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles.
Dalam pertemuan tersebut, Trump disebut mendesak para pejabat intelijen dan militer untuk memaparkan pandangan komprehensif mengenai kondisi Iran serta skenario operasional yang memungkinkan.
Jenderal Caine, menurut sumber, membandingkannya dengan operasi penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari lalu yang dinilai memiliki tingkat keberhasilan tinggi. Namun, Caine mengakui bahwa Iran merupakan "target yang lebih sulit" mengingat kompleksitas dan sistem pertahanannya.
Meski belum ada keputusan final, para penasihat Trump dilaporkan cenderung merekomendasikan serangan tahap pertama dalam waktu dekat. Serangan ini dirancang sebagai "sinyal peringatan" bagi para pemimpin di Teheran bahwa mereka harus menyerahkan kemampuan pengembangan senjata nuklir.
Target yang disebut-sebut dalam opsi pertama ini meliputi markas besar Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), fasilitas pengayaan nuklir, hingga infrastruktur program rudal balistik.
Jika tekanan militer awal itu gagal mengubah kebijakan Teheran, Trump disebut siap mengaktifkan fase kedua: operasi militer besar-besaran pada akhir tahun ini yang secara eksplisit menargetkan penggulingan kekuasaan Ayatollah Ali Khamenei.
Trump dikabarkan bersikukuh bahwa pengayaan nuklir Iran harus berada di "angka nol" – sebuah tuntutan yang jauh dari realitas saat ini di mana Iran telah memperkaya uranium hingga tingkat 60 persen, mendekati ambang batas senjata (90 persen).
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.