Jakarta, Sinata.id — Kebijakan baru Amerika Serikat yang menetapkan bea masuk antisubsidi (countervailing duties) pada impor panel surya dari Indonesia memicu gejolak di sektor perdagangan global energi terbarukan. Aturan itu berlaku sementara dan bisa memberikan dampak serius terhadap ekspor produk surya Indonesia ke salah satu pasar terbesar di dunia.
Keputusan itu diumumkan oleh Departemen Perdagangan Amerika Serikat (DOC) sebagai bagian dari penyelidikan terhadap dugaan subsidi yang diberikan oleh pemerintah Indonesia, India, dan Laos kepada produsen panel surya domestik mereka.
Menurut lembar fakta yang dirilis, tarif antisubsidi yang dikenakan pada produk Indonesia berkisar antara 86 persen hingga 143,3 persen, tergantung pada perusahaan eksportir yang bersangkutan.
Angka-angka tersebut jauh di atas bea masuk normal dan dirancang untuk mengimbangi dugaan bantuan pemerintah yang dinilai tidak adil oleh otoritas AS.
“Para produsen Amerika menginvestasikan miliaran dolar untuk membangun kapasitas dalam negeri. Investasi tersebut tidak akan berhasil jika impor yang diperdagangkan secara tidak adil dibiarkan mendistorsi pasar,” ujar Tim Brightbill, pengacara utama Alliance for American Solar Manufacturing and Trade, kelompok industri AS yang mengajukan kasus ini, dikutip Kamis (26/2/2026).
Tarif tinggi ini akan berdampak terhadap dua produsen utama panel surya Indonesia yang dievaluasi secara individual oleh pemerintah AS. PT Blue Sky Solar Indonesia dikenakan tarif tertinggi mencapai 143,3 persen, sementara PT REC Solar Energy Indonesia mendapat angka sekitar 85,99 persen. Perusahaan-perusahaan lain dari Indonesia yang tidak diteliti secara individual akan dikenakan tarif umum 104,38 persen.
Langkah proteksionis Washington ini menyusul tren tarif serupa sebelumnya yang ditujukan pada produk panel surya dari Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Kamboja, yang telah menurunkan impor ke AS secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Kebijakan bea masuk sementara tersebut tidak hanya berpotensi menekan volume ekspor Indonesia ke AS, tetapi juga memicu ketidakpastian harga dan pasokan dalam rantai nilai energi terbarukan global. Impor panel surya dari Indonesia, India, dan Laos pada tahun lalu mencapai nilai miliaran dolar AS, menyumbang sebagian besar dari total impor panel surya ke pasar Amerika Serikat.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.