Sinata.id - Ketegangan Beijing–Tokyo memasuki babak baru. Pemerintah China resmi mengerem ekspor barang berteknologi ganda ke Jepang, kebijakan yang langsung mengguncang pasar dan mengirim sinyal keras di tengah memanasnya isu Taiwan.
Kementerian Perdagangan China menegaskan, seluruh komoditas dwiguna—yang bisa dipakai sipil sekaligus militer—tak boleh lagi mengalir ke Jepang untuk kepentingan pertahanan. Bahkan, ekspor dengan tujuan akhir yang dinilai dapat meningkatkan kapabilitas militer Tokyo juga dipagari ketat. Aturan itu berlaku segera.
Beijing menautkan langkah tersebut dengan pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terkait Taiwan. “Pernyataan keliru tentang Taiwan menyiratkan kemungkinan intervensi militer di Selat Taiwan,” kata juru bicara Kemendag China, Selasa (6/1/2026). Sikap itu, lanjutnya, bertentangan dengan prinsip Satu China dan berpotensi menimbulkan dampak serius.
Reaksi pasar tak menunggu lama. Kontrak berjangka Nikkei 225 melemah sekitar satu persen sesaat setelah pengumuman, mencerminkan kekhawatiran pelaku usaha atas potensi gangguan rantai pasok.
Selama ini, pembatasan logam tanah jarang kerap menjadi kartu tekanan Beijing terhadap Tokyo—terutama sejak China memanfaatkan dominasinya di sektor itu tahun lalu untuk melawan tarif Amerika Serikat. Namun, paket terbaru dinilai jauh lebih luas. Daftar barang dwiguna China mencakup lebih dari 800 kategori, dari bahan kimia, elektronik, sensor, hingga peralatan maritim dan kedirgantaraan.
Pemerintah Jepang memilih menahan komentar. Pejabat Biro Keamanan Perdagangan dan Ekonomi Kemendag Jepang menyatakan tengah memantau dampaknya. Apakah kebijakan itu simbolik atau benar-benar memukul industri, masih menjadi tanda tanya.
Formulasi aturan yang longgar justru memantik kekhawatiran. “Rumusan pembatasannya cukup samar, sehingga secara teori China bisa menyasar impor Jepang meski untuk penggunaan sipil,” ujar Dylan Loh, associate professor di Nanyang Technological University. “Apakah itu akan dieksekusi sepenuhnya, itu soal lain.”
Langkah ini memperpanjang rangkaian tekanan Beijing sejak Takaichi menjadi pemimpin Jepang pertama yang secara terbuka menyatakan Tokyo bisa mengerahkan militer bila Beijing mencoba mengambil alih Taiwan. Pernyataan itu tak pernah ditarik; Tokyo menegaskan kebijakannya tetap.
Momentum pengumuman juga beririsan dengan kunjungan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung ke Beijing. Dalam pertemuan pekan ini, Presiden China Xi Jinping mendorong Seoul “berada di sisi sejarah yang benar.” Jepang dan Korea Selatan—keduanya sekutu AS—selama ini berkoordinasi dengan Washington untuk menyeimbangkan pengaruh ekonomi dan militer China di kawasan.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.