MENU
BMKG Ungkap Penyebab Angin Kencang dan Cuaca Ekstrem di Indonesia Akhi...
WA FB
Nasional

BMKG Ungkap Penyebab Angin Kencang dan Cuaca Ekstrem di Indonesia Akhir Januari 2026

J Editor : Jansen Siahaan | 24 Jan 2026 | 10:26 WIB
BMKG Ungkap Penyebab Angin Kencang dan Cuaca Ekstrem di Indonesia Akhir Januari 2026
Ilustrasi angin kencang. (kompas)

Jakarta, Sinata.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan angin kencang yang melanda sejumlah wilayah Indonesia pada akhir Januari 2026 dipicu oleh dinamika atmosfer global, regional, dan lokal yang masih signifikan dalam sepekan ke depan.

Informasi tersebut disampaikan BMKG melalui laman resminya, bmkg.go.id, sebagai bagian dari pemutakhiran kondisi cuaca nasional.

BMKG mencatat fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) saat ini berada pada fase yang memengaruhi suplai uap air di wilayah Indonesia.

“Pada skala global, ENSO terpantau menguat pada fase negatif yang mengindikasikan La Nina lemah, dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) yang cenderung positif,” tulis BMKG dalam keterangannya.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian timur.

Bibit Siklon Tropis 91S di Samudra Hindia

BMKG mendeteksi keberadaan Bibit Siklon Tropis 91S di Samudra Hindia selatan Sumbawa dengan tekanan udara minimum sekitar 1004 hPa. Sistem ini memiliki kecepatan angin maksimum hingga 30 knot dan bergerak ke arah selatan-tenggara.

Dalam 48 hingga 72 jam ke depan, potensi bibit siklon tersebut berkembang menjadi siklon tropis dinilai tinggi. Dampaknya, terjadi peningkatan kecepatan angin lebih dari 25 knot di Samudra Hindia selatan Jawa Timur hingga Pulau Sumba, serta wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan perairan utara Pulau Madura hingga Pulau Flores.

Bibit Siklon Tropis 92P di Wilayah Timur Indonesia

Selain itu, BMKG juga mencatat Bibit Siklon Tropis 92P di wilayah Teluk Carpentaria dengan tekanan udara minimum sekitar 1008 hPa dan kecepatan angin mencapai 15 knot, bergerak ke arah selatan-tenggara.

BMKG menilai peluang bibit siklon ini berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 hingga 72 jam ke depan berada pada kategori rendah. Meski demikian, sistem ini turut berkontribusi terhadap peningkatan kecepatan angin di atas 25 knot di wilayah Laut Banda, Laut Arafura, Maluku bagian selatan hingga tenggara, serta Papua Selatan bagian selatan.

Penguatan Monsun Asia dan Gelombang Atmosfer

BMKG juga mengidentifikasi adanya penguatan Monsun Asia yang disertai fenomena Cross Equatorial Northerly Surge (CENS).

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.