JAKARTA, Sinata.id — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia selama periode Sabtu (23/5/2026) pukul 07.00 WIB hingga Minggu (24/5/2026) pukul 07.00 WIB.
Berdasarkan data BNPB, bencana hidrometeorologi basah masih menjadi perhatian utama pemerintah daerah di berbagai wilayah.
Kejadian pertama tercatat di Kabupaten Pati, Sabtu (23/5/2026) pukul 03.00 WIB. Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan debit air Sungai Godo meluap dan mengakibatkan tanggul jebol sehingga banjir merendam permukiman warga di Desa Tanjunganom, Kecamatan Gabus.
Akibat kejadian tersebut, sebanyak 50 kepala keluarga terdampak dan 50 unit rumah terendam banjir sehingga aktivitas serta mobilitas warga sempat terganggu.
BPBD Kabupaten Pati telah melakukan asesmen, pemantauan debit air, serta koordinasi dengan aparat desa setempat. Hingga Sabtu (23/5/2026), kondisi banjir dilaporkan mulai berangsur surut.
Selain itu, banjir juga melanda Kabupaten Blora pada Jumat (22/5/2026) pukul 22.30 WIB setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut dalam durasi cukup lama.
Bencana di Desa Mulyorejo, Kecamatan Cepu itu berdampak pada 35 kepala keluarga dan merendam 35 rumah.
Dua fasilitas pendidikan yakni SD Mulyorejo 1 dan SMP 4 Cepu turut terdampak banjir.
BPBD Kabupaten Blora bersama unsur terkait telah melakukan asesmen dan pemantauan di wilayah terdampak.
Kondisi genangan di wilayah tersebut juga dilaporkan mulai surut pada Sabtu (23/5/2026).
Sementara itu, berdasarkan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang.
Di sisi lain, beberapa daerah mulai memasuki musim kemarau sehingga berpotensi mengalami kekeringan dan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan.
BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah maupun kering, seperti banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat juga diminta terus memantau informasi resmi dari pemerintah daerah, BPBD, BMKG, dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta segera melakukan langkah antisipasi apabila terjadi peningkatan ancaman bencana.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menegaskan kesiapsiagaan dan respons cepat seluruh unsur menjadi langkah penting dalam meminimalkan risiko dan dampak bencana. (A08)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.