Raksasa otomotif China, BYD, mengerahkan lebih dari 5.000 otak jenius dan dana investasi mencapai Rp238 triliun untuk mempercepat pengembangan mobil cerdas tanpa pengemudi, menandai langkah agresif China dalam merebut kepemimpinan global di era kendaraan otonom berbasis kecerdasan buatan.
Sinata.id - China kian serius menekan pedal gas menuju era mobil tanpa pengemudi. Sinyal terkuat datang dari BYD. Raksasa otomotif itu diam-diam telah mengerahkan lebih dari 5.000 insinyur dan peneliti untuk misi menjadikan kecerdasan buatan sebagai “otak utama” kendaraan masa depan.
Langkah ini bukan proyek coba-coba. BYD menyiapkan investasi raksasa mencapai 100 miliar yuan atau setara sekitar Rp238 triliun, yang difokuskan pada pengembangan sistem bantuan mengemudi canggih hingga teknologi parkir otonom Level 4.
Informasi dihimpun pada Minggu (4/1/2026), BYD menargetkan mobil yang mampu bergerak, berpikir, dan mengambil keputusan nyaris tanpa campur tangan manusia.
Puncak ambisi itu dipamerkan pada pertengahan 2025, ketika BYD membuka kemampuan parkir otonom Level 4 pada sistem yang mereka sebut God’s Eye.
Bukan hanya soal teknologi, BYD bahkan menyatakan kesediaan menanggung tanggung jawab penuh jika terjadi kerugian akibat sistem tersebut di China, sebuah pernyataan berani yang jarang diucapkan produsen otomotif global.
Hingga akhir 2025, lebih dari 2,5 juta kendaraan BYD telah dibekali God’s Eye.
Armada ini bukan sekadar kendaraan, melainkan “mesin pengumpul data raksasa”.
Setiap hari, sistem tersebut merekam lebih dari 150 juta kilometer perjalanan, membentuk basis data kendaraan awan terbesar di China, modal krusial dalam perlombaan kecerdasan buatan otomotif.
Data menjadi senjata utama. Sepanjang 2025, penetrasi kendaraan penumpang dengan sistem bantuan mengemudi canggih di China sudah menembus lebih dari 60 persen.
Angka ini menegaskan bahwa jalan raya China kini menjadi laboratorium raksasa bagi mobil cerdas.
Untuk melatih sistem menghadapi situasi ekstrem dan kejadian langka, BYD mengandalkan pendekatan “agen AI dan world model”.
Skenario virtual dipakai untuk mensimulasikan ribuan kemungkinan kesalahan, sesuatu yang sulit diuji sepenuhnya di jalan nyata.
Strategi ini memungkinkan kecerdasan buatan belajar lebih cepat, lebih aman, dan lebih presisi.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.