Jakarta, Sinata.id - Ancaman bencana tidak hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga perlahan menghapus jejak sejarah bangsa.
Isu ini mengemuka dalam seminar “Cagar Budaya yang Tangguh Bencana Berkelanjutan” di Museum Kebangkitan Nasional, Selasa (14/4/2026).
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa dampak bencana tidak berhenti pada aspek kemanusiaan, tetapi juga menyentuh sistem kehidupan yang lebih luas, termasuk cagar budaya.
“Cagar budaya merupakan bagian dari sistem kehidupan yang juga rentan terdampak bencana,” ujarnya. Negeri Kaya Warisan, Rawan Bencana Indonesia menghadapi ironi: kaya akan warisan budaya, namun berada di kawasan rawan bencana. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga 13 April 2026 telah terjadi 748 kejadian bencana, yang didominasi banjir dan cuaca ekstrem.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengingatkan bahwa cagar budaya menghadapi risiko kerusakan hingga kehilangan, baik akibat bencana alam maupun konflik.
Sejarah mencatat dampak nyata. Tsunami Aceh 2004 menghancurkan lebih dari 50 situs budaya. Gempa Yogyakarta 2006 merusak struktur Candi Borobudur dan Candi Prambanan.
Ancaman serupa terus berulang. Banjir dan longsor pada November 2025 merusak puluhan situs di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di Kota Lama Semarang, banjir musiman terus menggerus bangunan kolonial berusia lebih dari satu abad. Lebih dari Sekadar Warisan Fisik Menurut Abdul Muhari, perlindungan cagar budaya tidak cukup hanya secara fisik. Manuskrip kuno dan artefak menyimpan pengetahuan penting tentang pola bencana di masa lalu—sebuah sumber pembelajaran yang kerap terabaikan.
Artinya, cagar budaya bukan hanya objek yang harus dijaga, tetapi juga sumber pengetahuan untuk memperkuat mitigasi bencana di masa depan. Belajar dari Jepang Pengalaman Jepang menjadi rujukan penting. Pasca Tsunami Tohoku 2011, ratusan properti budaya yang rusak berhasil dipulihkan dalam waktu relatif cepat.
Keberhasilan tersebut ditopang kolaborasi lintas sektor, pemanfaatan teknologi, dan komitmen pendanaan. Inisiatif seperti Shiryō Net serta konsep Cultural Properties Doctor memungkinkan penyelamatan artefak sejak fase darurat.
Jepang juga menerapkan prinsip build back better, yakni membangun kembali dengan standar ketahanan yang lebih tinggi terhadap risiko bencana. Transformasi yang Mendesak BNPB menilai Indonesia perlu beralih dari pendekatan reaktif menuju mitigasi berbasis risiko. Sejumlah langkah strategis yang diusulkan antara lain:
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.