Jakarta, Sinata.id - Dunia menyaksikan ketegangan memuncak di Timur Tengah. Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran memicu gelombang kecaman dari dua kekuatan besar dunia: China dan Rusia. Namun di balik nada keras diplomasi, publik internasional bertanya, mengapa Beijing dan Moskow belum bergerak lebih jauh membantu Teheran?
Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengecam keras operasi militer tersebut. Ia menyebut tindakan itu tidak bisa diterima, terlebih karena menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
“Serangan seperti ini tidak dapat dibenarkan, apalagi sampai membunuh pemimpin negara berdaulat dan mendorong perubahan rezim,” tegas Wang Yi, seperti dilaporkan AFP, dikutip Selasa (3/3/2026).
Nada serupa datang dari Moskow. Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut aksi militer itu sebagai pelanggaran hukum internasional dan prinsip dasar Piagam PBB. Namun hingga kini, Kremlin belum mengumumkan dukungan militer ataupun langkah konkret untuk membantu Iran.
China: Hitung Untung-Rugi Diplomatik
Pengamat melihat respons Beijing cenderung terukur. Di tengah upaya menjaga stabilitas hubungan dengan Washington, China dinilai enggan terseret terlalu jauh.
Direktur Pelaksana Teneo, Gabriel Wildau, menilai kecil kemungkinan pemerintah China mengambil langkah nyata untuk membela Teheran. “Prioritas strategis kepemimpinan China tetap menjaga détente dengan Amerika Serikat,” ujarnya.
Apalagi, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu dalam waktu dekat. Momentum itu membuat Beijing diyakini memilih jalur diplomasi ketimbang konfrontasi terbuka.
Peneliti dari Chatham House, Ahmed Aboudouh, menilai China kemungkinan akan memanfaatkan situasi ini untuk negosiasi isu lain yang lebih vital bagi kepentingannya, seperti Taiwan dan perdagangan global. Artinya, Iran bukan prioritas utama dalam kalkulasi geopolitik Beijing.
Sinyal itu juga tercermin dari sikap China sebelumnya. Meski kerap mengkritik sanksi dan intervensi AS, Beijing tidak pernah benar-benar memberikan jaminan pertahanan militer kepada Teheran. Bahkan sebelum kesepakatan nuklir 2015, China ikut mendukung sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap Iran.
Rusia: Terbatas oleh Perang dan Minyak
Berbeda dengan China, Rusia memiliki hubungan militer lebih erat dengan Iran. Sejak invasi ke Ukraina pada 2022, Teheran menjadi salah satu pemasok drone dan perlengkapan militer penting bagi Moskow.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.