MENU
Cuaca Panas Ekstrem Masih Berlanjut hingga Akhir Oktober
WA FB
Nasional

Cuaca Panas Ekstrem Masih Berlanjut hingga Akhir Oktober

R Editor : Redaksi Sinata | 15 Oct 2025 | 17:04 WIB
Cuaca Panas Ekstrem Masih Berlanjut hingga Akhir Oktober
Cuaca panas ekstrem masih akan melanda Indonesia hingga akhir Oktober 2025. BMKG terus memantau kondisi atmosfer dan radiasi UV. (Ilustrasi)

Berdasarkan data terbaru, indeks UV di Indonesia Rabu (15/10) berada pada level ungu dan merah, menandakan risiko ekstrem dan sangat tinggi.

Warga diimbau menghindari paparan langsung antara pukul 10.00–16.00 WIB.

“Indeks UV ungu berarti ekstrem. Kulit dan mata dapat rusak dalam hitungan menit jika tidak menggunakan pelindung,” terang Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri, unit BMKG.

Untuk perlindungan, masyarakat disarankan memakai topi, kacamata hitam, pakaian pelindung, dan sunscreen SPF 30+ setiap dua jam, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

Penyebab Fenomena Panas

Selain pergeseran posisi matahari, panas ekstrem diperparah oleh beberapa faktor:

  1. Minimnya tutupan awan – sinar matahari langsung menembus permukaan bumi.

  2. Radiasi matahari meningkat – terutama di wilayah daratan seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

  3. Masa pancaroba – peralihan dari musim kemarau ke musim hujan menciptakan fluktuasi cuaca.

  4. Angin timuran kering – meningkatkan suhu siang hari secara signifikan.

  5. Fenomena La Nina lemah – diperkirakan berlangsung Oktober 2025 hingga Januari 2026, menyebabkan peningkatan curah hujan bertahap di beberapa wilayah.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati memprediksi, panas ekstrem akan mulai mereda pada akhir Oktober hingga awal November 2025, bersamaan dengan masuknya musim hujan dan meningkatnya tutupan awan.

Tips BMKG untuk Menghadapi Panas Ekstrem

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan dan mengurangi risiko paparan sinar matahari:

  • Hindari berada di bawah terik matahari antara pukul 10.00–16.00 WIB.

  • Tetap berada di tempat teduh saat siang hari.

  • Gunakan pakaian pelindung, topi lebar, dan kacamata hitam.

  • Oleskan tabir surya SPF 30+ setiap dua jam, termasuk saat beraktivitas di hari berawan.

  • Perhatikan permukaan cerah seperti pasir, air, atau salju yang meningkatkan paparan UV.

  • Selalu perbarui informasi cuaca melalui laman resmi BMKG atau aplikasi Info BMKG.

Selain panas, BMKG juga memperingatkan potensi hujan lokal dengan intensitas tinggi namun durasi singkat akibat pembentukan awan konvektif.

“Hujan deras bisa terjadi pada sore atau malam hari, bahkan setelah siang hari yang panas,” tambah Lyla.

Fenomena Musim dan Monsun

Menurut Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, cuaca panas Jabodetabek akhir-akhir ini diperkuat oleh Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan hangat, serta posisi gerak semu matahari yang lebih selatan, meningkatkan intensitas penyinaran matahari.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.