MENU
Dari Istiqlal ke Asia Tenggara: Takbir Idulfitri Menyatukan Empat Nega...
WA FB
News

Dari Istiqlal ke Asia Tenggara: Takbir Idulfitri Menyatukan Empat Negara

G Editor : Gunawan Purba | 22 Mar 2026 | 19:46 WIB
Dari Istiqlal ke Asia Tenggara: Takbir Idulfitri Menyatukan Empat Negara
Gema takbir dari Istiqlal (Situs Kemenag)

Jakarta, Sinata.id - Malam Idulfitri 1447 Hijriah terasa berbeda di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Dari masjid terbesar di Asia Tenggara itu, gema takbir tak hanya mengisi ruang kota, tetapi juga melintasi batas negara.

Takbir Idulfitri dikumandangkan secara bergantian oleh negara-negara anggota MABIMS—Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura—melalui sambungan virtual, Jumat (20/3/2026).

Suara takbir bersahut-sahutan, menyatukan umat Islam di kawasan dalam satu irama spiritual yang sama.

Momentum ini terasa semakin kuat karena keempat negara tersebut menetapkan 1 Syawal 1447 H secara serentak, jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Kesamaan penetapan itu menghadirkan nuansa kebersamaan yang jarang terjadi.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menyebut Idulfitri sebagai momen yang sarat emosi.

Menurutnya, ada perasaan ganda yang menyertai datangnya hari kemenangan: haru karena berpisah dengan Ramadan, sekaligus bahagia menyambut Idulfitri.

Ramadan, kata dia, bukan sekadar bulan puasa. Ia menjadi ruang pembinaan spiritual yang memperkaya kehidupan umat.

Selama sebulan, umat Islam tidak hanya menahan diri, tetapi juga memperbanyak ibadah sunah yang memperkuat nilai-nilai keagamaan dalam keseharian.

“Semoga seluruh amal ibadah kita diterima Allah dan mengantarkan kita pada kemenangan yang sejati,” ujarnya.

Ia menambahkan, capaian selama Ramadan seharusnya menjadi bekal. Bukan hanya untuk menjaga kualitas diri, tetapi juga memperkuat ketahanan spiritual dan sosial setelah bulan suci berlalu.

Di sisi lain, Ramadan juga menjadi periode yang padat aktivitas bagi Direktorat Jenderal Bimas Islam. Berbagai program dijalankan untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Bahkan terasa seolah 30 hari belum cukup untuk menampung seluruh program,” kata Abu Rokhmad.

Dalam konteks itu, Gema Takbir lintas negara dinilai sebagai langkah penting. Tidak hanya memperluas syiar Islam, tetapi juga mempererat hubungan antarnegara di kawasan.

Keserentakan Idulfitri, menurutnya, mencerminkan semakin kuatnya sinergi dalam penentuan awal bulan Hijriah. Sekaligus menjadi simbol persatuan umat Islam Asia Tenggara.

Ia berharap tradisi takbir bersama lintas negara ini terus dikembangkan. Dengan begitu, jangkauan syiar dapat semakin luas dan terasa oleh masyarakat regional.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.