Jakarta, Sinata.id – Di tengah tekanan ekonomi yang masih membayangi industri media, Dewan Pers kembali mengingatkan pentingnya keberpihakan jurnalisme pada isu-isu kemiskinan dan ketimpangan sosial.
Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, menegaskan bahwa tantangan bisnis yang dihadapi perusahaan pers, termasuk efisiensi dan restrukturisasi di sejumlah redaksi, tidak boleh menggeser fungsi utama media sebagai pengawal kepentingan publik.
Menurutnya, dinamika pemberitaan saat ini sering kali dipengaruhi logika viralitas. Isu yang ramai di media sosial cepat mendapat sorotan, sementara persoalan mendasar seperti kemiskinan struktural dan ketimpangan ekonomi kerap luput dari perhatian berkelanjutan.
“Media perlu menjaga konsistensi. Bukan hanya mengikuti apa yang sedang ramai, tetapi juga mengangkat persoalan yang berdampak jangka panjang bagi masyarakat,” ujarnya dalam pernyataan yang kembali relevan dengan situasi industri pers saat ini.
Ia menilai struktur sosial Indonesia masih menunjukkan ketimpangan yang nyata. Pertumbuhan ekonomi yang dicapai dalam beberapa tahun terakhir, kata dia, belum sepenuhnya menjamin pemerataan kesejahteraan.
“Pertumbuhan penting, tetapi distribusi manfaat pembangunan juga harus menjadi perhatian. Di sinilah peran pers untuk terus mengawal dan mengingatkan,” tambahnya.
Komaruddin menekankan bahwa fungsi pers sebagai social watchdog menjadi semakin krusial di era disrupsi digital. Di satu sisi, media dituntut beradaptasi dengan model bisnis baru. Di sisi lain, integritas dan orientasi pada kepentingan publik tidak boleh tergerus.
Ia mendorong ruang redaksi tetap memberi porsi yang memadai bagi liputan mendalam tentang kemiskinan, akses pendidikan, layanan kesehatan, dan persoalan ketenagakerjaan. Liputan semacam itu, menurutnya, berperan membentuk kesadaran kolektif sekaligus mendorong lahirnya kebijakan yang lebih berpihak.
Penguatan kualitas jurnalisme, lanjutnya, juga dapat menjadi jalan keluar jangka panjang bagi keberlanjutan media. Kepercayaan publik tumbuh ketika media hadir secara konsisten membela kepentingan masyarakat luas, bukan sekadar mengejar trafik dan sensasi.
Dalam lanskap informasi yang serba cepat dan kompetitif, konsistensi menjadi kunci. Pers yang relevan bukan hanya yang mampu mengikuti arus, tetapi yang berani menjaga arah. Ketika suara kelompok rentan tetap mendapat ruang, di situlah jurnalisme menunjukkan jati dirinya sebagai penjaga nurani publik. (SN9)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.