Menurut Jansen, keberadaan seorang perwira polisi di kamar saat korban ditemukan meninggal patut menjadi perhatian serius aparat penegak hukum.
Pihaknya menegaskan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah, namun mendorong agar penyelidikan dilakukan secara objektif dan transparan.
“Kami berharap kasus ini dibuka seterang-terangnya dan jangan sampai ada kesan melindungi oknum tertentu,” tegasnya.
Polisi Berpangkat AKBP Bertugas di Dalmas
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Artanto membenarkan bahwa AKBP Basuki yang disebut dalam kasus ini merupakan perwira menengah yang bertugas di Subdirektorat Pengendalian Massa (Dalmas) Direktorat Samapta Polda Jateng.
“Benar, AKBP Basuki memang pamen di Dalmas,” ujar Artanto.
Ia menyatakan, Polda Jateng memantau proses penyelidikan yang dilakukan Satreskrim Polrestabes Semarang dan akan mengawasi perkembangan penanganan kasus ini melalui Direktorat Reserse Kriminal Umum.
“Kalau nanti ditemukan pelanggaran yang dilakukan (oleh AKBP Basuki), akan ditindak sesuai aturan,” tambahnya.
AKBP Andika Dharma Sena menegaskan, polisi yang berada di kamar bersama korban sudah dimintai keterangan sebagai saksi.
Penyidik juga memeriksa sejumlah saksi lain, termasuk pihak hotel, serta mengumpulkan rekaman CCTV.
Terkait hubungan pribadi antara Dwinanda dan AKBP Basuki, Andika menyebut pihaknya belum bisa menjelaskan lebih jauh.
“Saya belum tahu apakah mereka pasangan atau bukan. Yang jelas, kami dalami dan kumpulkan semua bukti,” ujarnya.
Sosok Dwinanda Linchia Levi
Kematian Dwinanda Linchia Levi meninggalkan duka mendalam di lingkungan kampus.
Dekan Fakultas Hukum Untag Semarang, Prof Edy Lisdiyono, meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas penyebab kematian dosen mudanya itu dan menyampaikannya secara terbuka kepada publik.
Dwinanda dikenal sebagai akademisi dengan rekam jejak pendidikan yang kuat.
Ia menempuh Magister Ilmu Hukum di Universitas Jenderal Soedirman dan meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Diponegoro pada 2019.
Sejumlah publikasi ilmiah di bidang hukum tercatat terbit antara 2022 hingga 2024.
Kerabat menyebut Dwinanda sebagai sosok pendiam dan fokus pada dunia akademik.
Ia berasal dari Purwokerto dan merantau ke Semarang setelah kedua orang tuanya meninggal.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.