MENU
Ekonomi RI 2026 Dipacu 6 Persen, Tapi Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saj...
WA FB
News

Ekonomi RI 2026 Dipacu 6 Persen, Tapi Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja

R Editor : Redaksi Sinata | 04 Jan 2026 | 17:58 WIB
Ekonomi RI 2026 Dipacu 6 Persen, Tapi Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja
Ekonomi RI memasuki 2026 dengan target pertumbuhan ambisius hingga 6 persen. Di tengah tekanan global dan proyeksi hati-hati pasar. (Ilustrasi)

Sinata.id - Ekonomi RI memasuki 2026 dengan target pertumbuhan agresif hingga 6 persen yang dipasang pemerintah, di tengah tekanan perlambatan global dan proyeksi lembaga keuangan yang lebih berhati-hati, sehingga arah kebijakan fiskal dan moneter kini menjadi sorotan utama publik dan pasar.

Memasuki 2026, arah ekonomi Indonesia kembali menjadi sorotan.

Di tengah tekanan geopolitik, perlambatan perdagangan global, serta ketidakpastian kebijakan ekonomi dunia, pemerintah justru memasang target pertumbuhan yang lebih agresif.

Pemerintah melalui APBN 2026 menetapkan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,4 persen, naik dari target tahun sebelumnya.

Bahkan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan keyakinan lebih tinggi, ekonomi Indonesia disebut berpeluang menembus 6 persen pada 2026, jika mesin kebijakan bekerja optimal.

“Target itu realistis dan bisa dicapai,” ujar Purbaya, dikutip Minggu (4/1/2026).

Purbaya juga menekankan bahwa dorongan belanja negara, koordinasi moneter dengan Bank Indonesia, serta penghapusan hambatan usaha akan menjadi kunci percepatan.

Namun optimisme pemerintah tidak sepenuhnya sejalan dengan pembacaan pelaku pasar dan lembaga internasional.

Sejumlah lembaga keuangan global justru membaca ekonomi Indonesia 2026 dengan nada lebih hati-hati.

Asian Development Bank (ADB), misalnya, memproyeksikan pertumbuhan hanya berada di kisaran 5 persen.

Proyeksi ini bahkan direvisi turun akibat meningkatnya tensi perdagangan global dan tingginya ketidakpastian kebijakan tarif negara maju.

Tekanan eksternal juga dinilai masih membayangi, terutama dari arah Amerika Serikat yang mempertahankan tarif tinggi, serta fragmentasi rantai pasok global yang belum sepenuhnya pulih.

Nada serupa datang dari konsensus ekonom yang dilansir Bloomberg.

Dari sekitar 20 ekonom, mayoritas memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bertahan di kisaran 5 persen, relatif stagnan dalam tiga tahun terakhir.

Di tengah perbedaan proyeksi itu, sektor perbankan domestik mengambil posisi moderat.

Citibank Indonesia memandang ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh sekitar 5,3 persen, didukung penurunan suku bunga dan mulai efektifnya stimulus fiskal dan moneter sejak akhir 2025.

Menurut Citibank, pelonggaran likuiditas dan pergeseran dana pemerintah ke sistem perbankan membuka ruang ekspansi kredit, yang menjadi bahan bakar utama pertumbuhan konsumsi dan investasi.

Sementara itu, Permata Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di rentang 5,1–5,2 persen.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.