Kombinasi belanja pemerintah yang pro-pertumbuhan dan kebijakan Bank Indonesia yang akomodatif dinilai mampu menjaga momentum pemulihan tanpa mengorbankan stabilitas.
Namun, tantangan struktural belum sepenuhnya hilang.
Neraca transaksi berjalan masih berisiko defisit, meski surplus perdagangan dan arus masuk modal asing diperkirakan tetap menopang ekonomi.
Investasi asing langsung (FDI) dan aliran portofolio dinilai menjadi faktor penentu apakah ekonomi mampu melaju lebih kencang atau tetap berjalan hati-hati.
Dari sisi kebijakan moneter, pasar memproyeksikan Bank Indonesia akan melanjutkan pelonggaran suku bunga.
Suku bunga acuan diperkirakan turun ke 4,5 persen pada kuartal I-2026, lalu kembali dipangkas menjadi 4,25 persen pada pertengahan tahun, langkah yang diharapkan memberi dorongan tambahan bagi dunia usaha dan konsumsi rumah tangga.
Dengan perbedaan proyeksi yang cukup lebar, ekonomi Indonesia 2026 kini berada di persimpangan antara ambisi dan kehati-hatian.
Pemerintah memilih gas penuh, sementara pasar membaca jalanan global masih licin. [a46]
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.