Sinata.id - Harga tembaga mencetak sejarah baru. Untuk pertama kalinya, logam industri strategis itu menembus batas psikologis US$12.000 per ton, menandai lonjakan tajam yang mempertegas fase reli panjang di pasar global.
Pada perdagangan Selasa (23/12/2025), harga patokan tembaga di London Metal Exchange (LME) sempat melonjak hingga US$12.159,50 per ton, sebelum akhirnya ditutup menguat. Sepanjang tahun berjalan, nilainya telah meroket lebih dari 35 persen, menempatkan tembaga pada jalur penguatan tahunan terbesar sejak krisis finansial global 2009.
Lonjakan ini tidak berdiri sendiri. Ketidakpastian pasokan global kini menjadi pemicu utama, diperparah oleh serangkaian gangguan operasional di sejumlah tambang besar dunia. Dalam waktu berdekatan, pasar diguncang kabar kecelakaan fatal di salah satu tambang raksasa di Indonesia, banjir bawah tanah di Republik Demokratik Kongo, hingga insiden ledakan batuan mematikan di Cile. Kombinasi peristiwa tersebut menekan produksi dan memicu kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar.
Dari sisi kebijakan, bayang-bayang tarif impor Amerika Serikat ikut mempercepat reli. Ancaman bea masuk baru mendorong pembeli AS mengamankan pasokan lebih awal. Akibatnya, tembaga menumpuk di gudang-gudang Negeri Paman Sam, membuka peluang transaksi arbitrase sekaligus memperketat ketersediaan di pasar lain.
“Amerika Serikat masih berada dalam fase agresif menimbun stok. Situasi ini kemungkinan berlanjut sampai ada kejelasan arah kebijakan pemerintah,” ujar analis komoditas BMO Capital Markets, Helen Amos.
Di saat pasokan tertekan, prospek permintaan justru kian menguat. Transisi global menuju elektrifikasi—mulai dari jaringan listrik, energi terbarukan, hingga kendaraan listrik—membutuhkan volume tembaga dalam jumlah masif. Belum lagi lonjakan kebutuhan listrik untuk menopang pusat data dan industri kecerdasan buatan, yang kini menjadi taruhan besar investor.
Masalahnya, sumber daya berkadar tinggi yang mudah ditambang semakin menipis. Para analis industri mulai mempertanyakan dari mana pasokan baru akan berasal untuk memenuhi lonjakan konsumsi dalam satu dekade mendatang. Kekhawatiran itu diperkuat oleh langkah sejumlah perusahaan tambang yang menurunkan proyeksi produksi tahun ini.
Deutsche Bank bahkan memperkirakan output para penambang besar dunia akan menyusut sekitar 3 persen tahun ini, dengan risiko penurunan lanjutan pada 2026. Morgan Stanley menilai pasar tembaga global sedang menuju defisit terdalam dalam lebih dari dua dekade, dengan selisih antara permintaan dan pasokan diproyeksikan mencapai 600 ribu ton tahun depan—dan terus melebar setelahnya.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.