MENU
Heineken Pangkas 7% Tenaga Kerja Global, Akibat Konsumsi Bir Lesu
WA FB
Kolom

Heineken Pangkas 7% Tenaga Kerja Global, Akibat Konsumsi Bir Lesu

R Editor : Redaksi Sinata | 11 Feb 2026 | 18:56 WIB
Heineken Pangkas 7% Tenaga Kerja Global, Akibat Konsumsi Bir Lesu
Heineken pangkas 7% karyawan global akibat penurunan permintaan bir, harga tinggi, dan perubahan konsumsi alkohol, fokus efisiensi sambil persiapkan pemulihan pasar jangka panjang. (Ist)

Jakarta, Sinata.id – Heineken NV mengambil langkah drastis dengan memangkas sekitar 7% tenaga kerjanya secara global, atau setara 5.000–6.000 karyawan, menyusul penurunan permintaan bir di berbagai pasar utama. Pemangkasan ini sebagian besar akan terjadi di Eropa, dari total tenaga kerja global sebanyak 87.000 orang.

Langkah ini muncul di tengah tekanan harga dan perubahan perilaku konsumen yang mengurangi konsumsi alkohol. Volume bir Heineken sepanjang 2025 tercatat turun 2,4%, sedikit lebih baik dibanding perkiraan analis, namun tetap menandai tren penurunan yang terasa pasca-pandemi, khususnya di Amerika Serikat dan Eropa.

CEO Heineken Dolf van den Brink menyebut pergantian kepemimpinan sebagai salah satu dampak dari kondisi pasar saat ini. Van den Brink akan mengundurkan diri pada Mei mendatang, dan pencarian penggantinya menjadi “prioritas utama” bagi dewan direksi.

"Kami tetap berhati-hati dalam jangka pendek, dan tetap yakin dalam jangka menengah hingga panjang bahwa kategori minuman beralkohol akan kembali tumbuh," ujar Van den Brink, dikutip Rabu (11/2/2026).

Meski demikian, kabar pemangkasan tenaga kerja tidak menurunkan minat investor. Saham Heineken sempat melonjak 4,4% di perdagangan awal di Amsterdam, menjadi kenaikan intraday terbesar sejak Juni, dan meningkat 7% sepanjang tahun hingga penutupan perdagangan Selasa.

Perusahaan menargetkan pengurangan karyawan akan berlangsung selama dua tahun, sebagai bagian dari strategi efisiensi biaya. Proyeksi pertumbuhan laba operasional Heineken tahun ini berada di kisaran 2%–6%, lebih rendah dibandingkan 4,4% pada 2025, namun masih berada dalam target perusahaan untuk tahun transisi.

Analis Jefferies, Edward Mundy dan Sebastian Hickman, menilai langkah ini “sedikit lebih moderat dari ekspektasi pasar,” namun tetap menempatkan perusahaan dalam posisi yang kuat untuk mencapai target jangka menengah.

Pesaing Heineken, Carlsberg A/S, pekan lalu memperluas proyeksi laba operasionalnya, namun memperingatkan akan tekanan permintaan yang masih lesu di pasar barat. Tren ini mencerminkan tantangan serius bagi produsen bir global menghadapi perubahan pola konsumsi dan tekanan inflasi. [a46]

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.