MENU
πŸ“Siantar πŸ“Simalungun πŸ“Medan πŸ“Singkil πŸ“Taput πŸ“Sibolga
Ketika Pintu Kompetisi Menyempit: Akar Rumput dan Kontestasi Ketua NU...
WA FB
Kolom

Ketika Pintu Kompetisi Menyempit: Akar Rumput dan Kontestasi Ketua NU Simalungun

G Editor : Gunawan Purba | 24 May 2026 | 14:05 WIB
Ketika Pintu Kompetisi Menyempit: Akar Rumput dan Kontestasi Ketua NU Simalungun
Samsudin Siregar MPdI

Oleh Samsudin Siregar MPdI

Setiap organisasi besar selalu diuji bukan ketika berada dalam situasi tenang, melainkan ketika memasuki momentum pergantian kepemimpinan. Pada titik itulah nilai-nilai organisasi dipertemukan dengan realitas kepentingan, idealisme dipertemukan dengan dinamika kekuasaan, dan semangat kebersamaan diuji oleh proses kompetisi.

Pergantian kepemimpinan tidak sekadar soal memilih figur, tetapi juga menentukan arah masa depan organisasi: apakah organisasi akan tumbuh semakin terbuka, atau justru bergerak ke ruang yang semakin sempit.

Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, kepemimpinan pada hakikatnya tidak hanya dimaknai sebagai perebutan posisi, melainkan sebagai amanah yang lahir dari proses musyawarah, pengabdian, serta rekam jejak perjuangan.

Sejarah panjang NU menunjukkan bahwa organisasi ini tumbuh bukan semata karena kekuatan struktur, melainkan juga karena kekuatan kultural yang hidup di tengah masyarakat.

Pesantren, majelis taklim, pengajian kampung, guru-guru agama, para kiai, dan warga nahdliyin di akar rumput merupakan fondasi yang membuat NU tetap besar hingga hari ini.

Di tengah dinamika menjelang kontestasi kepemimpinan NU di Simalungun, muncul berbagai pembicaraan dan persepsi dari kalangan masyarakat terkait ruang kompetisi yang dianggap belum sepenuhnya terbuka bagi semua kader.

Salah satu nama yang mulai diperbincangkan ialah KH. Erayadi. Di kalangan tertentu, beliau dipandang sebagai kader yang tumbuh dari proses panjang pengabdian dan dianggap memiliki kedekatan dengan basis warga nahdliyin.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan ataupun menyalahkan pihak tertentu. Sebab, proses organisasi tetap memiliki mekanisme dan aturan yang harus dihormati.

Namun, apabila muncul persepsi di tengah masyarakat bahwa terdapat kader yang berasal dari akar rumput menghadapi keterbatasan ruang kompetisi, maka hal tersebut layak menjadi bahan refleksi bersama.

Sebab yang lebih penting daripada siapa yang menang adalah bagaimana proses menuju kemenangan itu berlangsung secara sehat, terbuka, dan bermartabat.

Ketika Kompetisi Dipersepsikan Menyempit

Dalam organisasi apa pun, kompetisi yang sehat memerlukan tiga syarat utama: kesempatan yang sama, ruang yang terbuka, dan mekanisme yang adil. Ketika salah satu di antaranya mulai dipertanyakan, maka yang muncul bukan sekadar persaingan kandidat, tetapi juga persoalan kepercayaan.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.