Persoalan yang sering muncul dalam berbagai organisasi bukan terletak pada hadirnya kandidat tertentu, melainkan pada persepsi bahwa peluang untuk bertarung tidak diberikan secara setara.
Dalam kondisi demikian, yang berkembang biasanya bukan diskusi tentang gagasan, melainkan pembicaraan mengenai kedekatan dengan kekuasaan, pengaruh elite, atau dukungan kelompok tertentu.
Padahal NU memiliki tradisi musyawarah yang sangat kaya. Organisasi ini dibangun dengan semangat kolektif, bukan dengan dominasi satu kelompok atas kelompok lain.
Karena itu, apabila muncul anggapan bahwa ruang gerak kader tertentu terasa terbatas atau kurang mendapatkan ruang yang sama, maka persoalan tersebut sebaiknya tidak dipandang sebagai konflik individu, melainkan sebagai tantangan organisasi.
Sebab sesungguhnya yang dipertaruhkan bukan nama seseorang. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan warga terhadap proses organisasi. Ketika warga mulai merasa bahwa figur yang dekat dengan akar rumput mengalami kesulitan memperoleh ruang kompetisi yang setara, maka pertanyaan besar yang muncul ialah: apakah organisasi sedang bergerak menuju keterbukaan, atau justru menuju eksklusivitas? Pertanyaan ini penting karena NU dibangun oleh warga.
NU lahir dari tradisi bawah, tumbuh dari masyarakat, berkembang melalui pesantren, dan dibesarkan oleh jamaah. Akar Rumput Bukan Sekadar Penonton Dalam banyak kontestasi organisasi, kelompok akar rumput sering kali memiliki posisi yang unik.
Mereka menjadi kekuatan utama ketika organisasi membutuhkan dukungan, tetapi terkadang merasa jauh dari proses pengambilan keputusan. Padahal kelompok akar rumput bukan sekadar pelengkap.
Mereka adalah denyut kehidupan organisasi. Mereka hadir dalam pengajian-pengajian kecil di desa, menjaga tradisi keagamaan, membesarkan lembaga pendidikan, menghidupkan kegiatan sosial, dan menjaga hubungan NU dengan masyarakat.
Karena itu, ketika muncul kader yang dipandang lahir dari proses panjang pengabdian di bawah, maka sesungguhnya yang hadir bukan hanya seorang kandidat. Yang hadir juga adalah harapan sebagian warga agar suara mereka memperoleh ruang yang lebih luas.
Dalam konteks inilah nama Erayadi, M.Pd mulai banyak diperbincangkan oleh berbagai kalangan warga nahdliyin di tingkat akar rumput. Di tengah masyarakat, figur ini juga dikenal dengan sebutan Tuan Guru Bah Joga (Syekh Karimudin), sekaligus sebagai pimpinan Pesantren Darul Hikmah.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.