Kedekatan dengan masyarakat menjadikan namanya relatif akrab di tengah basis warga, terutama pada lingkungan pendidikan, pengajian, dan aktivitas keagamaan masyarakat.
Bagi sebagian masyarakat, kedekatan tersebut tidak dibangun secara instan melalui momentum kontestasi, melainkan tumbuh dari proses interaksi sosial yang berlangsung cukup panjang.
Di banyak organisasi berbasis keagamaan dan sosial kemasyarakatan, kedekatan seperti ini sering kali menjadi modal sosial yang penting karena melahirkan hubungan emosional dan kepercayaan publik.
Selain itu, figur Erayadi juga dipersepsikan memiliki karakter kepemimpinan yang tenang dan kharismatik. Dalam tradisi kepemimpinan keagamaan, ketenangan sering dipandang bukan sekadar sifat personal, tetapi bagian dari kemampuan menjaga keseimbangan, meredam ketegangan, dan merawat persatuan.
Sementara kharisma tidak semata diukur melalui kemampuan berbicara di ruang publik, tetapi juga melalui konsistensi pengabdian serta penerimaan masyarakat terhadap figur tersebut.
Namun persoalan utama sesungguhnya bukan terletak pada sosok Erayadi sebagai individu. Persoalannya ialah apakah setiap kader, termasuk kader yang tumbuh dari proses panjang di tingkat bawah, memiliki kesempatan yang sama untuk bertarung secara terbuka.
Sebab kompetisi yang sehat bukan berarti memastikan siapa yang menang, tetapi memastikan setiap kader memperoleh hak yang sama untuk mengikuti proses organisasi secara adil.
Dukungan Penguasa dan Dukungan Massa
Dalam dinamika organisasi modern, dukungan memiliki banyak bentuk. Ada dukungan struktural. Ada dukungan moral. Ada dukungan kultural. Ada pula dukungan massa.
Tidak ada yang salah dengan kedekatan kepada pemerintah atau pihak-pihak tertentu selama semuanya bertujuan untuk kepentingan organisasi.
Hubungan yang baik dengan berbagai pihak bahkan dapat menjadi modal penting bagi pengembangan program organisasi. Namun persoalan muncul ketika dukungan struktural dipersepsikan lebih menentukan daripada dukungan warga. Sebab organisasi keagamaan memiliki karakter yang berbeda dengan organisasi politik praktis.
Legitimasi tertinggi dalam organisasi keagamaan sering kali tidak lahir dari kekuatan formal semata, melainkan dari penerimaan masyarakat.
Seorang pemimpin dapat memiliki kekuatan administrasi, tetapi ia juga membutuhkan kekuatan sosial. Ia memerlukan penerimaan. Ia memerlukan kepercayaan. Dan kepercayaan tidak bisa dibangun secara instan. Kepercayaan lahir melalui proses panjang pengabdian.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.