MENU
Ketika Pintu Kompetisi Menyempit: Akar Rumput dan Kontestasi Ketua NU...
WA FB
Kolom

Ketika Pintu Kompetisi Menyempit: Akar Rumput dan Kontestasi Ketua NU Simalungun

G Editor : Gunawan Purba | 24 May 2026 | 14:05 WIB
Ketika Pintu Kompetisi Menyempit: Akar Rumput dan Kontestasi Ketua NU Simalungun
Samsudin Siregar MPdI

Jalan Keluar: Mengubah Massa Menjadi Kekuatan Organisasi

Pertanyaannya ialah: bagaimana jika figur yang dianggap dekat dengan akar rumput ingin memperoleh kesempatan bertarung secara terbuka? Jawabannya bukan dengan membangun pertentangan antara "penguasa" melawan "massa".

Jalan yang lebih bijak adalah mengubah kekuatan massa menjadi kekuatan organisasi. Setidaknya terdapat beberapa langkah yang dapat dipikirkan antara lain: Mendorong forum terbuka antar kandidat, apabila terdapat beberapa kandidat yang akan bertarung, maka sebaiknya ruang dialog dibuka secara luas. Misalnya melalui: penyampaian visi dan misi; dialog terbuka; forum gagasan; penyampaian program kerja.

Dengan cara demikian, warga dan pengurus dapat menilai kandidat berdasarkan kualitas gagasan, bukan berdasarkan persepsi kedekatan dengan kelompok tertentu. Kompetisi akan menjadi lebih sehat.

Mengutamakan etika organisasi Dalam tradisi NU, adab selalu ditempatkan di atas kepentingan pribadi. Karena itu seluruh pihak perlu menjaga suasana agar tetap kondusif. Perbedaan pilihan tidak boleh merusak persaudaraan. Kontestasi hanya berlangsung sesaat. Tetapi persatuan organisasi harus dijaga dalam jangka panjang.

Memberi Kesempatan Bertarung Bukan Berarti Menentukan Pemenang Salah satu hal yang perlu dipahami bersama ialah bahwa memberi ruang kompetisi terbuka tidak berarti memihak kandidat tertentu.

Memberi kesempatan bertarung bukan berarti menentukan siapa yang menang. Memberi ruang yang sama hanyalah memastikan bahwa proses organisasi berjalan sehat.

Bila KH. Erayadi memang memiliki dukungan kuat dari bawah, maka biarkan dukungan tersebut diuji secara terbuka.

Bila kandidat lain memiliki kekuatan yang lebih besar, biarkan pula hal itu dibuktikan melalui proses yang adil. Karena kemenangan yang lahir dari kompetisi sehat akan menghasilkan legitimasi yang kuat. Sebaliknya, kemenangan yang terus dipertanyakan akan meninggalkan ruang keraguan.

Pada akhirnya, NU Simalungun membutuhkan lebih dari sekadar ketua baru. Yang dibutuhkan ialah proses kepemimpinan yang mampu menghadirkan rasa memiliki bagi seluruh warga.

Karena organisasi besar tidak dibangun oleh satu figur. Ia dibangun oleh banyak tangan. Dibangun oleh para kiai. Dibangun oleh pengurus. Dibangun oleh guru. Dibangun oleh warga. Dan dibangun oleh mereka yang selama ini bekerja tanpa banyak sorotan.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.