MENU
πŸ“Siantar πŸ“Simalungun πŸ“Medan πŸ“Singkil πŸ“Taput πŸ“Sibolga
Peringatan May Day, dari Refleksi Menjadi Seremoni
WA FB
Kolom

Peringatan May Day, dari Refleksi Menjadi Seremoni

G Editor : Gunawan Purba | 02 May 2026 | 11:39 WIB
Peringatan May Day, dari Refleksi Menjadi Seremoni
Daulat Sihombing

Oleh : Daulat Sihombing

Peringatan Mayday atau Hari Buruh Internasional, secara konteks adalah penghormatan terhadap aksi mogok ribuan buruh/pekerja di Chicago AS, 1 Mei 1886, yang menuntut pembebasan buruh/pekerja dari jam kerja yang tidak terbatas menjadi hanya 8 (delapan) jam sehari.

Namun aksi yang semula berlangsung damai berubah menjadi bentrokan berdarah antara polisi dan buruh setelah terjadi ledakan bom yang menewaskan beberapa polisi, hingga memicu penangkapan massal terhadap aktivis buruh. Peristiwa ini dikenal juga dengan nama Tragedi Haymarket.

Di era Presiden Soekarno, Mayday diakui secara resmi oleh pemerintah dan dirayakan setiap tahun sebagai simbol perjuangan kaum buruh. Tapi setelah Presiden Soekarno tumbang dan digantikan oleh Presiden Soeharo, pemerintah melarang ketat perayaan Mayday dan dianggap berbau Komunis atau PKI.

Tanggal 09 April April 1994, saya Daulat Sihombing sebagai aktivis Ornop (Organisasi Non Pemerintah) bidang Perburuhan di Siantar-Simalungun, sekaligus aktivis SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia) pimpinan Muchtar Pakpahan, berencana menggelar perayaan Hari Buruh Internasional 1 Mei 1994, bersama sejumlah buruh Siantar-Simalungun yang meliputi buruh STTC, PT. SSU, PT. Permona, PT. Wongso Prawiro, PT. Marstex, dan beberapa perusahaan lainnya.

Untuk itu, lalu dibentuk Panitia. Namun malam dibentuk Panitia, besok paginya sudah mendapat panggilan interogasi aparat dari lembaga pertahanan negara.

Di lembaga itu, Panitia sebanyak 13 orang, diinterogasi satu per- satu secara intensif dan diperlakukan layaknya teroris atau terduga makar, dan baru dilepas pulang setelah besoknya ratusan buruh Siantar-Simalungun mendatangi markas lembaga tersebut, mendesak membebaskan buruh, jika tidak buruh mengancam mengerahkan massa yang lebih besar.

Karena tekanan tersebut, akhirnya para buruh dibebaskan, dengan syarat tidak akan menggelar peringatan Mayday.

Secara konteks, perayaan Mayday, sebenarnya tak hanya menjadi tonggak sejarah peringatan aksi pemogokan massal di Chicago AS, tetapi juga peringatan terhadap aksi- aksi buruh di beberapa kota di dalam negeri yang berjuang untuk pembatasan jam kerja, kebebasan berserikat, dan penerapan hak- hak normative buruh.

Sebutlah aksi pemogokan ribuan buruh PT. Gajah Tunggal Group, Tangerang, tahun 1993, yang menuntut pembatasan jam kerja, kebebasan berserikat dan penerapan hak- hak normative namun berujung pengerahan ribuan pasukan anti huru hara dan pasukan tentara untuk menangkap puluhan aktivis buruh dan meredam aksi buruh.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.