MENU
📍Siantar 📍Simalungun 📍Medan 📍Singkil 📍Taput 📍Sibolga
\"Habonaron Do Bona”: Antara Nilai Budaya dan Ujian Integritas di Ruan...
WA FB
Kolom

\"Habonaron Do Bona”: Antara Nilai Budaya dan Ujian Integritas di Ruang Publik

B Editor : Brian Nicholson | 28 Apr 2026 | 18:08 WIB
\"Habonaron Do Bona”: Antara Nilai Budaya dan Ujian Integritas di Ruang Publik
Alex Hendrik Damanik, Anggota DPRD Pematangsiantar

Oleh : Alex Hendrik Damanik, Anggota DPRD Kota Pematangsiantar

Di tengah arus perubahan sosial dan kompleksitas kehidupan modern, pertanyaan tentang apa yang menjadi dasar dalam bertindak kembali menemukan relevansinya. Dalam khazanah budaya Simalungun, jawaban atas pertanyaan tersebut telah lama dirumuskan melalui ungkapan sederhana namun mendalam: “Habonaron do bona” kebenaran adalah pangkal dari segala hal.

Filosofi ini tidak berhenti sebagai identitas kultural, melainkan mengandung dimensi etis yang menuntut aktualisasi. Kebenaran, dalam pengertian ini, bukan sekadar sesuatu yang diakui, tetapi sesuatu yang harus dihidupi. Ia mengandung konsekuensi: keberanian untuk bersikap jujur, keteguhan untuk berlaku adil, dan kesediaan untuk bertanggung jawab atas setiap keputusan.

Namun demikian, mempertahankan kebenaran dalam praktik bukanlah perkara sederhana. Realitas menunjukkan bahwa ruang publik kerap dihadapkan pada tarik-menarik kepentingan, tekanan situasional, serta dinamika yang tidak selalu memberi ruang yang luas bagi nilai-nilai ideal. Dalam kondisi seperti ini, kebenaran tidak jarang mengalami reduksi bukan karena kehilangan makna, melainkan karena melemahnya komitmen untuk menjadikannya sebagai landasan.

Ungkapan Simalungun lainnya, “sampanganbei manoktok hitei,” memberikan perspektif penting bahwa kebenaran bukan sesuatu yang statis, melainkan harus dipelihara dan diperjuangkan secara berkelanjutan. Ia menuntut kesabaran, konsistensi, dan integritas, bahkan ketika dihadapkan pada situasi yang tidak selalu sejalan dengan prinsip tersebut.

Di sinilah letak relevansi filosofis sekaligus praktis dari nilai “Habonaron do bona”. Ia mengingatkan bahwa kepercayaan yang menjadi fondasi utama dalam kehidupan sosial tidak lahir dari retorika, melainkan dari konsistensi antara nilai yang diyakini dan tindakan yang dilakukan. Ketika kebenaran dijadikan dasar, kepercayaan tumbuh. Sebaliknya, ketika kebenaran diabaikan, kepercayaan perlahan tergerus.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, nilai ini memiliki makna strategis. Setiap peran yang mengandung amanah publik pada dasarnya berdiri di atas ekspektasi akan integritas. Oleh karena itu, menjadikan kebenaran sebagai fondasi bukan hanya pilihan moral, tetapi juga kebutuhan sistemik untuk menjaga keberlanjutan kepercayaan masyarakat.

Bagi generasi muda, filosofi ini menawarkan arah yang jelas di tengah berbagai kemungkinan jalan hidup yang dapat ditempuh. “Habonaron do bona” mengajarkan bahwa kualitas keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh capaian akhir, tetapi oleh proses yang dilalui. Sementara itu, “sampanganbei manoktok hitei” menegaskan bahwa menjaga kebenaran adalah proses panjang yang membutuhkan keteguhan, bukan sekadar niat sesaat.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.