MENU
Ikan Sapu-sapu Kali Ciliwung Diolah Jadi Siomay, Warga Jaktim Raup Cua...
WA FB
Nasional

Ikan Sapu-sapu Kali Ciliwung Diolah Jadi Siomay, Warga Jaktim Raup Cuan hingga Rp20 Ribu per Kg

N Editor : Nida | 17 Apr 2026 | 19:40 WIB
Ikan Sapu-sapu Kali Ciliwung Diolah Jadi Siomay, Warga Jaktim Raup Cuan hingga Rp20 Ribu per Kg
Ikan sapu-sapu (Kompas)

Jakarta, Sinata.id - Fenomena pemanfaatan ikan sapu-sapu di aliran Kali Ciliwung, Jakarta Timur, menjadi perhatian menarik. Di tengah upaya pemerintah memberantas ikan invasif tersebut, sebagian warga justru melihat peluang ekonomi dengan mengolahnya menjadi bahan makanan.

Salah satunya adalah Tedy, warga Kramat Jati yang telah sekitar 15 tahun menekuni pekerjaan sebagai penangkap ikan sapu-sapu. Setiap hari, ia mampu menangkap hingga 100 kilogram ikan dari sungai tersebut.

Menurut Tedy, ikan sapu-sapu tidak memiliki nilai jual jika dijual dalam kondisi utuh. Oleh karena itu, ikan harus diolah terlebih dahulu menjadi daging agar diminati pasar. Daging tersebut kemudian dijual ke pengepul dengan harga berkisar Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram.

Daging ikan sapu-sapu ini selanjutnya dimanfaatkan sebagai bahan campuran berbagai makanan olahan seperti siomay dan otak-otak. Selain itu, sebagian hasil tangkapan juga digunakan untuk pakan ternak seperti bebek serta umpan ikan lele.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Jakarta Timur terus menggencarkan operasi penangkapan ikan sapu-sapu di Kali Ciliwung. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Wali Kota Munjirin bersama jajaran dinas terkait.

Dalam operasi tersebut, petugas menyisir sungai menggunakan perahu karet dan menjaring ikan dengan jala. Ikan yang berhasil ditangkap kemudian dimatikan sebelum akhirnya dikubur guna mencegah berkembangnya populasi.

Tedy pun menyambut positif rencana pemerintah yang akan memberikan insentif bagi warga yang ikut menangkap ikan sapu-sapu. Menurutnya, kebijakan tersebut bisa meringankan kerja warga yang selama ini harus mengolah ikan secara manual sebelum dijual.

Keberadaan ikan sapu-sapu sendiri memang menjadi masalah di sejumlah wilayah karena sifatnya yang invasif dan dapat merusak ekosistem sungai. Namun di balik itu, sebagian masyarakat berhasil mengubahnya menjadi sumber penghasilan tambahan.(A07)

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.