Jakarta, Sinata.id – Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi, mengaku mengalami pengawasan dan pembuntutan oleh sejumlah orang tak dikenal (OTK) selama lebih dari sepekan.
Pengakuan tersebut disampaikan Islah melalui akun Instagram pribadinya pada Senin (25/5/2026). Dalam unggahannya, ia juga menampilkan foto sejumlah orang yang diduga melakukan pengawasan beserta kendaraan yang digunakan.
“Dalam 10 hari terakhir rumah saya ‘dikepung’ oleh beberapa oknum yang saya yakini tentara. Mereka merekam siapa pun yang beraktivitas di rumah dan menguntit ke mana pun saya pergi,” tulis Islah.
Menurut Islah, orang-orang tersebut kerap hilir mudik di sekitar rumahnya sambil memantau aktivitas penghuni rumah, baik secara terbuka maupun tertutup.
Ia mengaku merasa rumahnya diperlakukan seperti markas yang dianggap mengancam negara.
“Mereka memotret dan memantau seolah rumah saya adalah markas musuh dan setiap penghuninya ancaman bagi negara,” ujarnya.
Selain itu, Islah menyebut para OTK tersebut juga sempat bertanya kepada warga sekitar mengenai aktivitas dan penghuni rumahnya. Bahkan, menurutnya, warga diberi tahu bahwa dirinya sedang diawasi.
Islah menilai situasi yang dialaminya mengingatkan pada praktik pengawasan pada masa Orde Baru.
“Dwifungsi ABRI, Kopkamtib, dan UU Subversif memang sudah tidak ada, tetapi ada pihak-pihak yang berusaha menghadirkan kembali semangat itu,” katanya.
Ia menduga pengawasan tersebut berkaitan dengan aktivitasnya sebagai aktivis demokrasi dan kritik yang selama ini disuarakan terkait isu remiliterisasi serta supremasi sipil.
“Mungkin karena saya dianggap aktivis demokrasi atau sering mengkritik remiliterisasi. Yang jelas, wajah-wajah anti supremasi sipil itu terus terlihat di sekitar rumah saya,” lanjutnya.
Meski demikian, Islah mengaku sempat memilih untuk tidak menceritakan kejadian tersebut kepada publik karena menganggapnya sebagai bagian dari risiko perjuangan dalam menjaga demokrasi dan reformasi.
Namun, ia meyakini situasi serupa kemungkinan juga dialami oleh aktivis lain.
“Saya yakin situasi seperti ini tidak hanya terjadi pada saya. Bisa jadi kawan-kawan seperjuangan lain juga mengalami tekanan serupa,” katanya.
Di sisi lain, Islah menegaskan intimidasi tidak akan membungkam suara kritis masyarakat dalam negara demokrasi.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.