MENU
Jadwal Sidang Isbat Idul Fitri 2026, Prediksi 1 Syawal dan Potensi Per...
WA FB
Nasional

Jadwal Sidang Isbat Idul Fitri 2026, Prediksi 1 Syawal dan Potensi Perbedaan Lebaran

J Editor : Jansen Siahaan | 16 Mar 2026 | 18:59 WIB
Jadwal Sidang Isbat Idul Fitri 2026, Prediksi 1 Syawal dan Potensi Perbedaan Lebaran
Tim Rukyatul Hilal usai meneropong posisi hilal di Mesjid Al Musriyiin, Jakarta, Kamis (16/7/2015). (liputan6)

Apabila posisi hilal berada di bawah kriteria tersebut, maka penentuan awal bulan biasanya dilakukan dengan metode istikmal, yaitu menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari.

Prediksi Tanggal 1 Syawal 1447 H

Organisasi Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal, yang menyatakan awal bulan dimulai apabila konjungsi telah terjadi sebelum matahari terbenam dan posisi bulan berada di atas ufuk.

Sementara itu, pemerintah melalui Kemenag bersama Nahdlatul Ulama (NU) diperkirakan menetapkan Idulfitri pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Prediksi tersebut muncul karena secara astronomi posisi hilal pada 19 Maret 2026 diperkirakan belum memenuhi kriteria MABIMS di sebagian besar wilayah Asia Tenggara.

Jika kondisi ini terjadi, maka Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga 1 Syawal jatuh pada 21 Maret 2026.

Prediksi dari BRIN

Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, juga memprediksi kemungkinan Lebaran jatuh pada 21 Maret 2026.

Menurutnya, berdasarkan perhitungan astronomi, saat magrib pada 19 Maret 2026 posisi hilal di wilayah Asia Tenggara masih belum memenuhi kriteria baru MABIMS.

Artinya, peluang besar pemerintah akan mengambil keputusan istikmal, yaitu menyempurnakan Ramadhan menjadi 30 hari sebelum menetapkan awal Syawal.

Namun demikian, keputusan resmi tetap menunggu hasil Sidang Isbat yang digelar pemerintah.

Potensi Perbedaan Lebaran 2026

Perbedaan penetapan Idulfitri antara Muhammadiyah dan pemerintah berpotensi terjadi pada tahun 2026.

Muhammadiyah menggunakan metode hisab wujudul hilal, yang tidak mensyaratkan hilal harus terlihat secara langsung. Sementara pemerintah menggunakan metode imkanur rukyat yang menggabungkan perhitungan astronomi dan pengamatan hilal.

Perbedaan metode inilah yang sering menjadi penyebab perbedaan tanggal Lebaran di Indonesia.

Meski demikian, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kerukunan dan toleransi apabila terdapat perbedaan penetapan hari raya.

Imbauan Kementerian Agama

Kemenag mengingatkan masyarakat agar menunggu pengumuman resmi Sidang Isbat sebelum menentukan perayaan Hari Raya Idulfitri.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga persatuan umat serta menghindari kebingungan di tengah masyarakat.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengimbau umat Islam untuk menghormati keputusan pemerintah sekaligus menghargai perbedaan yang mungkin terjadi.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.