Jakarta, Sinata.id — Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjadikan penyelenggaraan ibadah haji Indonesia semakin inklusif. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memastikan pelayanan bagi jemaah tidak lagi hanya berfokus pada aspek teknis perjalanan, tetapi juga pada akses yang adil bagi lansia, perempuan, dan penyandang disabilitas.
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj, Puji Raharjo, menegaskan bahwa ibadah haji merupakan hak seluruh umat Islam tanpa memandang kondisi fisik maupun latar belakang sosial. Karena itu, negara berkewajiban memastikan setiap jemaah memperoleh pelayanan yang setara.
“Haji adalah hak dan kewajiban bagi seluruh umat muslim, tidak terkendala suku, bangsa, maupun kondisinya,” ujar Puji Raharjo saat menghadiri diskusi publik mengenai pemantauan haji inklusif yang digelar Komisi Nasional Disabilitas (KND) di Jakarta, dikutip Sabtu (14/3/2026).
Menurutnya, pemerintah saat ini terus melakukan pembaruan regulasi dan memperkuat kebijakan agar layanan haji semakin ramah bagi semua kelompok jemaah. Konsep inklusivitas itu tidak hanya mencakup penyediaan fasilitas fisik, tetapi juga memastikan sistem pelayanan yang lebih manusiawi dan mudah diakses.
Ia menegaskan, penyelenggaraan haji ke depan tidak boleh lagi dipandang sebagai layanan yang hanya berorientasi pada jemaah umum. “Haji bukan hanya urusan laki-laki saja, tetapi juga harus ramah bagi lansia, penyandang disabilitas, dan perempuan. Semua jemaah harus mendapatkan jaminan layanan yang sama,” katanya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kemenhaj juga memperluas kerja sama dengan berbagai organisasi dan komunitas yang bergerak di bidang disabilitas. Kolaborasi ini diharapkan dapat membantu pemerintah merancang pelayanan yang lebih sensitif terhadap kebutuhan jemaah berkebutuhan khusus.
Sementara itu, Ketua Komisi Nasional Disabilitas Dante Rigmalia mengapresiasi langkah pemerintah yang dinilai cepat merespons berbagai rekomendasi terkait layanan haji bagi penyandang disabilitas. Ia menyebut sejumlah perbaikan sudah terlihat, termasuk dalam penyediaan konsumsi bagi jemaah berkebutuhan khusus.
“Makanan untuk lansia dan jemaah disabilitas juga sudah cukup baik. Ini menunjukkan adanya perhatian terhadap kebutuhan khusus jemaah,” ujar Dante.
Meski begitu, ia menilai masih ada pekerjaan rumah yang perlu diperkuat, terutama soal sistem pendampingan bagi jemaah disabilitas selama menjalani rangkaian ibadah. Menurutnya, keberadaan pendamping sangat penting agar jemaah dengan keterbatasan fisik tetap dapat menjalankan ibadah secara aman dan nyaman.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.