Pematangsiantar, Sinata.id – Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengingatkan masyarakat untuk menjaga berat badan dan mencegah terjadinya Obesitas.
Menurutnya, obesitas harus dipahami sebagai penyakit kronis, bukan sekadar persoalan bentuk tubuh. “Obesitas adalah mother of disease. Dari obesitas bisa berkembang menjadi Diabetes, Hipertensi, penyakit jantung, hingga Stroke,” ujarnya dalam acara bertajuk Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas yang digelar pada awal Maret 2026 di Menteng, Jakarta Pusat.
Keseimbangan Kalori Jadi Kunci
Nadia menjelaskan, prinsip dasar obesitas terletak pada ketidakseimbangan antara kalori yang masuk dan yang dikeluarkan tubuh setiap hari, serta komposisi makanan yang dikonsumsi, seperti protein, karbohidrat, dan lemak.
Lemak berlebih pada awalnya akan menumpuk di bawah kulit, terutama di area perut. Namun, jika kapasitas penyimpanan telah penuh, lemak dapat masuk ke organ tubuh.
“Kalau sudah tidak ada tempat lagi untuk menyimpan lemak, maka lemak akan masuk ke organ tubuh. Inilah yang sering disebut sebagai perlemakan hati dan itu sangat berbahaya,” jelasnya.
Prevalensi Obesitas Terus Meningkat
Nadia mengungkapkan bahwa prevalensi obesitas di Indonesia meningkat dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023. Dari hasil skrining terhadap 33 juta masyarakat, sekitar 7 juta orang tercatat mengalami kelebihan berat badan dan obesitas.
Menurutnya, angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan sinyal meningkatnya risiko penyakit kronis di masyarakat.
“Bayangkan jika sebagian dari kasus obesitas itu berkembang menjadi penyakit jantung atau stroke. Beban ekonomi dan sosialnya akan sangat besar,” ujarnya.
Pangan Olahan dan Gaya Hidup Sedentari
Terkait konsumsi pangan olahan, Nadia menyebut sebagian besar asupan kalori harian masyarakat berasal dari makanan dan minuman siap saji. Namun, masalah utamanya adalah konsumsi berlebihan dan kurangnya kontrol porsi.
“Yang terpenting adalah menerapkan pola makan seimbang, memperhatikan porsi, serta menghindari konsumsi berlebihan agar risiko obesitas dapat ditekan,” katanya.
Ia juga menyoroti konsumsi tinggi gula, garam, dan lemak (GGL) yang dapat memicu lonjakan gula darah berulang dan meningkatkan risiko resistensi insulin.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.