“Jika seseorang sudah obesitas, risiko terkena diabetes bisa meningkat sekitar 20 persen, bahkan lebih tinggi jika ada riwayat keluarga,” tambahnya.
Namun demikian, Nadia menegaskan bahwa obesitas tidak hanya disebabkan oleh pangan olahan.
“Konsumsi GGL memang berperan, tetapi gaya hidup sedentari juga sangat menentukan. Kombinasi keduanya mempercepat terjadinya obesitas,” ujarnya.
Kebiasaan duduk terlalu lama, minim aktivitas fisik, serta kemudahan layanan pesan-antar makanan turut memperparah kondisi tersebut.
Edukasi Gizi Jadi Kunci
Dari perspektif akademisi, Direktur South-East Asia Food and Agricultural Science and Technology Center Institut Pertanian Bogor, Puspo Edi Giriwono, menilai pangan olahan tidak selalu berdampak negatif.
“Pangan olahan merupakan bagian dari sistem pangan modern yang dihasilkan melalui proses berbasis sains dan teknologi untuk meningkatkan keamanan, mutu, dan masa simpan,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya literasi gizi agar masyarakat mampu membaca informasi pada kemasan dan memilih makanan secara bijak.
“Edukasi publik menjadi kunci untuk menurunkan risiko obesitas tanpa harus membatasi akses pangan,” katanya.
Perlu Perubahan Gaya Hidup
Nadia menegaskan bahwa pengendalian obesitas memerlukan pendekatan komprehensif, mulai dari edukasi, pembatasan konsumsi GGL sesuai anjuran (gula maksimal 50 gram per hari, garam 5 gram, dan lemak 67 gram), hingga deteksi dini melalui skrining kesehatan.
Ia juga menyarankan perubahan gaya hidup dilakukan secara bertahap.
“Tidak harus langsung berhenti total. Kurangi frekuensi dan porsi, lalu imbangi dengan aktivitas fisik minimal 30 menit per hari,” ujarnya.
Tanpa perubahan perilaku, tren obesitas diperkirakan akan terus meningkat dan berdampak pada lonjakan kasus penyakit kronis di masa depan. (tempo/A02)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.