Oleh: Doni Arief MA (Dosen STAI Samora)
Dikisahkan dalam sirah Nabawiyah, pada malam sebelum Perang Uhud, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengizinkan Hanzhalah bin Abi Amir radhiyallahu ‘anhu pulang sejenak menemui istrinya, Jamila binti Abdullah, yang baru sehari dinikahinya.
Ketika panggilan perang berkumandang pada pagi harinya, Hanzhalah bergegas menuju medan pertempuran Uhud tanpa sempat mandi besar.
Ia syahid di sana dalam keadaan junub. Para malaikat kemudian turun memandikannya dengan air hujan di dalam bejana perak.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat para malaikat di antara langit dan bumi memandikan Hanzhalah dengan air hujan dalam bejana-bejana perak.” (HR. Ahmad 15802, al-Hakim 5563, dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ 737).
Kisah ini menunjukkan betapa tingginya kepekaan langit terhadap seorang hamba yang bergegas menjawab panggilan jihad. Air hujan yang biasa kita anggap remeh menjadi alat kemuliaan karena digunakan untuk mengurus jenazah seorang syahid.
Sekarang, air yang sama datang dalam bentuk banjir yang merendam rumah, menghanyutkan harta, dan membuat ribuan saudara kita mengungsi. Air itu tetap sama, hanya konteksnya yang berubah, jika dulu rahmat bagi Hanzhalah, kini ujian bagi kita semua.
Maka Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur’an: “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematian) ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh" (QS. Al-Munafiqun: 10).
Ayat ini menjadi peringatan bahwa jangan sampai penyesalan datang ketika nyawa sudah di kerongkongan. Hari ini, ketika saudara-saudara kita sedang diuji banjir, itulah “sedikit waktu lagi” yang Allah SWT berikan agar kita bisa bersedekah dan menjadi hamba yang saleh.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh mengeluh kesakitan, seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam" (HR. Muslim 2586).
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.