MENU
Kisah Pilu Fitriani, Rela Terendam Dua Malam Tanpa Makan demi Balita d...
WA FB
Regional

Kisah Pilu Fitriani, Rela Terendam Dua Malam Tanpa Makan demi Balita dan Ayah Lansia

R Editor : Redaksi Sinata | 19 Dec 2025 | 18:56 WIB
Kisah Pilu Fitriani, Rela Terendam Dua Malam Tanpa Makan demi Balita dan Ayah Lansia
Kisah pilu Fitriani, ibu di Pidie Jaya, yang terjebak dua hari dua malam di rumah terendam banjir. Tanpa makanan dan air bersih, ia bertahan demi menyelamatkan anaknya dari amukan banjir. (Masakini.co)

Sinata.id - Fitriani tak pernah membayangkan siang itu akan menjadi titik balik hidupnya. Di Gampong Dayah Husen, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, hari berjalan seperti biasa. Rumah kecil yang ia tempati bersama anak dan ayahnya tampak tenang, seolah tak menyimpan firasat apa pun. Hingga air datang diam-diam, lalu tak terbendung.

Awalnya hanya membasahi lantai. Setinggi mata kaki. Pemandangan yang kerap terjadi saat hujan deras dan biasanya segera berlalu.

Fitriani tak menaruh curiga. Namun dalam hitungan menit, air tak lagi memberi kesempatan.

Lantai rumah menghilang, dinding mulai basah, dan arus kian terasa menekan.

“Tidak terasa cepat kali naiknya. Tahu-tahu sudah sampai dada,” kata Fitriani, mengingat kembali detik-detik itu, dikutip Jumat (19/12/2025).

Di dalam rumah, ia tak sendiri.

Putrinya yang masih berusia lima tahun dan ayahnya yang telah renta berada di sana.

Kepanikan pun tak terelakkan. Air semakin tinggi, sementara pilihan untuk menyelamatkan diri terasa kian sempit.

Ayahnya tak lagi sanggup berjalan. Menggendong di tengah arus deras bukanlah hal yang mungkin.

“Kami bisa saja keluar, tapi ayah sudah lansia. Tidak mungkin dibawa lari,” ucapnya lirih.

Dalam kondisi terjepit, naluri seorang ibu mengambil alih segalanya.

Fitriani tak lagi memikirkan dirinya sendiri.

Yang ada hanya menyelamatkan anaknya.

Ia mengangkat sang putri setinggi yang ia mampu, menaikkannya ke atas lemari, satu-satunya tempat yang belum tersentuh air.

“Air terus naik, kami terjebak. Anak saya saya letakkan di atas lemari,” tuturnya.

Malam turun bersama rasa dingin dan ketakutan.

Dua hari dua malam mereka bertahan di dalam rumah yang berubah menjadi perangkap air.

Tak ada nasi, tak ada lauk, tak ada air bersih.

Hanya tubuh yang menggigil dan perut yang semakin kosong.

Untuk bertahan hidup, mereka menadah air hujan seadanya.

Di sudut rumah yang gelap, tangisan kecil terus terdengar.

Sang anak merengek, meminta makan.

“Anak saya minta nasi. Saat itu hati saya seperti diremas,” ujarnya, menahan air mata.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.