Di balik megaproyek bernilai miliaran dolar yang ditargetkan beroperasi 2026 ini, berdiri konsorsium investor kuat: grup dalam negeri hingga Bank of China.
Proyek yang dijanjikan akan menyerap ribuan tenaga kerja ini sejak awal telah menjadi perhatian karena lokasinya yang beririsan dengan habitat satwa langka, dan kini dituding mengganggu keseimbangan Daerah Aliran Sungai.
3. Tambang Emas: PT Agincourt Resources
Di balik nama Martabe, tersimpan harta karun sebesar 6,4 juta ons emas dan 58 juta ons perak. Perusahaan yang di-backing oleh konglomerasi Astra (melalui United Tractors) ini adalah mesin penghasil logam mulia yang tak kenal lelah, memproses >6 juta ton bijih per tahun sejak 2012. Dengan konsesi yang meluas dari awalnya 6.560 km² menjadi 1.303 km²—membentang di empat kabupaten—operasinya merupakan perpaduan antara teknologi tinggi, investasi besar, dan eksplorasi agresif yang menghabiskan ratusan ribu dolar per tahun untuk pengeboran.
4. PT Sago Nauli
Berbeda dengan tiga raksasa sebelumnya, Sago Nauli tumbuh sebagai perintis perkebunan sawit berbasis kemitraan di Mandailing Natal sejak 1997.
Dengan model inti-plasma (2.392 ha inti & 6.114 ha plasma), perusahaan ini menggerakkan roda ekonomi lokal melalui 7 KUD dan menyerap 830 karyawan.
Meski skalanya lebih kecil, operasinya yang telah berjalan hampir tiga dekade menunjukkan keberlanjutan bisnis keluarga (dimiliki Igansius Sago) yang mengakar di daerah.
Pabrik kelapa sawit berkapasitas 60 ton/jamnya menjadi tulang punggung pengolahan hasil kebun mitra. (*)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.