Pematangsiantar, Sinata.id – Swatch resmi meluncurkan koleksi Royal Pop pada Sabtu (16/5/2026) melalui kolaborasi mengejutkan bersama Audemars Piguet.
Kolaborasi ini langsung menjadi sorotan dunia horologi karena menghadirkan delapan jam saku berwarna-warni berbahan Bioceramic, bukan jam tangan pergelangan tangan seperti yang sebelumnya diperkirakan para penggemar.
Koleksi bernama Bioceramic Royal Pop tersebut dipasarkan secara global melalui toko Swatch dengan kisaran harga 400 hingga 420 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp6,5 juta hingga Rp6,8 juta.
Jam Saku Jadi Kejutan Besar
Sebelum peluncuran resmi, banyak kolektor dan pengamat industri memperkirakan kedua merek akan merilis versi khusus Royal Oak dalam format jam tangan pergelangan tangan. Namun, Swatch dan Audemars Piguet justru memilih konsep jam saku yang dianggap tidak lazim di era modern.
Langkah tersebut memunculkan reaksi beragam. Sebagian pihak menilai kolaborasi ini inovatif dan berani, sementara lainnya menganggapnya berisiko terhadap citra eksklusif Audemars Piguet.
Dalam materi kampanyenya, Swatch menyebut Royal Pop sebagai “cara baru untuk mengenakan waktu”. CEO Swatch, Ilaria Resta, mengatakan koleksi itu mencerminkan keberanian dan semangat hidup generasi baru.
Meski demikian, sejumlah penggemar jam tangan mewah menilai produk tersebut lebih menyerupai gadget budaya pop dibanding karya haute horlogerie yang identik dengan eksklusivitas dan prestise.
Strategi Menarik Generasi Muda
Kolaborasi ini disebut menjadi bagian dari tren rumah mode dan merek mewah dunia yang mulai membuka diri terhadap budaya populer demi menjangkau audiens muda.
Mantan CEO Audemars Piguet, François-Henry Bennahmias, sebelumnya memang dikenal mendukung pendekatan kolaboratif semacam ini. Ia pernah memuji kesuksesan MoonSwatch, kerja sama Swatch dengan Omega, yang dinilai berhasil mengenalkan dunia jam tangan premium kepada generasi muda.
Menurut Bennahmias, industri jam tangan perlu mengubah cara mempromosikan produknya agar lebih relevan dengan perkembangan budaya modern.
Dinilai Berisiko bagi Citra Audemars Piguet
Meski memberikan keuntungan besar bagi Swatch dari sisi pemasaran dan popularitas, langkah tersebut dianggap lebih kompleks bagi Audemars Piguet.
Sebagai salah satu merek paling eksklusif di dunia haute horlogerie, Audemars Piguet selama ini dikenal menjaga kelangkaan produksinya. Perusahaan asal Le Brassus, Swiss, itu hanya memproduksi sekitar 50 ribu jam tangan per tahun, jauh lebih sedikit dibandingkan Rolex yang mencapai sekitar satu juta unit per tahun.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.