MENU
Komdigi Luncurkan Sistem Rating IGRS Mulai 2026
WA FB
Nasional

Komdigi Luncurkan Sistem Rating IGRS Mulai 2026

R Editor : Redaksi Sinata | 12 Oct 2025 | 18:01 WIB
Komdigi Luncurkan Sistem Rating IGRS Mulai 2026
Menteri Komdigi Meutya Hafid. (Ist)

Sinata.id - Mulai 2026, tak ada lagi gim yang bebas tanpa klasifikasi umur. Pemerintah lewat Kementerian Komdigi menegaskan penerapan Indonesia Game Rating System (IGRS) sebagai aturan wajib bagi semua pengembang, demi menjaga transparansi konten dan keamanan pemain muda.

Dunia game di Indonesia resmi memasuki babak baru. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) akhirnya meresmikan sistem klasifikasi permainan nasional bernama Indonesia Game Rating System (IGRS).

Peluncuran bersejarah ini berlangsung meriah di ajang Indonesia Game Developer Exchange (IGDX) 2025, yang digelar di Bali akhir pekan ini.

“Dengan adanya IGRS, setiap penerbit game diwajibkan menampilkan label usia pemain, mulai dari 3 tahun hingga 17 tahun ke atas,” ujar Menteri Komdigi Meutya Hafid, saat membuka acara, Minggu (12/10/2025).

Meutya menegaskan, kebijakan ini bukan sekadar aturan baru, melainkan langkah strategis untuk melindungi industri game sekaligus pemainnya, terutama anak-anak.

Mulai tahun 2026, setiap developer atau publisher game yang ingin memasarkan produknya di Indonesia wajib menyertakan label IGRS di gim mereka.
Artinya, tidak ada lagi game yang bebas beredar tanpa panduan usia yang jelas.

Komdigi menegaskan, penerapan IGRS akan diawasi secara berkala. Setiap konten game akan diperiksa untuk memastikan kesesuaiannya dengan rating yang tercantum.

“Jika ditemukan ketidaksesuaian atau pelanggaran, pemerintah siap menerapkan sanksi,” tegas Meutya, yang juga politikus Partai Golkar tersebut.

Ia menambahkan, sistem ini tidak hanya menegakkan regulasi, tetapi juga memberikan kepercayaan dan kredibilitas baru bagi developer lokal, agar dapat bersaing di pasar global tanpa mengabaikan nilai moral dan perlindungan pemain muda.

Mengapa IGRS Penting?

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menjadi salah satu pasar game terbesar di Asia Tenggara. Namun, pertumbuhan pesat itu tidak diiringi dengan pengawasan konten yang proporsional.

Banyak anak-anak yang memainkan game dengan konten kekerasan atau tema dewasa tanpa batas usia yang jelas.

“IGRS akan membantu orang tua memahami apakah sebuah game layak dimainkan anaknya atau tidak,” jelas Meutya.

Selain itu, sistem ini juga akan menjadi acuan penting bagi pengembang lokal untuk menyesuaikan produknya dengan standar nasional—tanpa harus menunggu aturan dari luar negeri.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.