Harare, Sinata.id – Dikenal dunia akibat krisis ekonomi terburuk dalam sejarah modern, Zimbabwe kini mulai menata kembali kehidupannya. Setelah sempat mencetak uang dengan nilai fantastis—100 triliun dolar Zimbabwe—pada masa puncak hiperinflasi tahun 2008, negara di kawasan Afrika bagian selatan ini kini menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, meski pemulihan penuh masih jauh dari kata tuntas.
Seorang content creator Indonesia, dengan kanal Youtube Cerita Traveler, yang tengah berkunjung ke ibu kota Harare memberikan gambaran kehidupan terkini di Zimbabwe dari sudut pandang warga lokal. Ditemani dua penduduk asli, Brandon dari Harare dan Nashel dari Bulawayo, ia menelusuri pusat kota dan merasakan langsung denyut kehidupan masyarakat Zimbabwe pasca-hiperinflasi.
Dulu Simbol Kehancuran, Kini Lambang Ketahanan
Harare sempat menjadi simbol kehancuran ekonomi dunia. Pada tahun 2008, hiperinflasi di Zimbabwe mencapai titik ekstrem, dengan angka yang tak masuk akal: 1 USD sempat setara dengan 35 kuadriliun dolar Zimbabwe. Harga barang melonjak hingga tiga kali lipat dalam sehari. Dengan uang 100 triliun dolar Zimbabwe, masyarakat bahkan tak mampu membeli sepotong roti atau membayar angkot. Nilai mata uang lokal benar-benar runtuh.
Saking tak berartinya, uang kertas Zimbabwe kala itu bahkan digunakan sebagai pengganti tisu toilet. Pemerintah akhirnya mempensiunkan mata uang nasional dan mengadopsi mata uang asing, terutama dolar Amerika Serikat dan rand Afrika Selatan.
Harare, Kota yang Tenang dan Tertata
Kini, Harare tampil sebagai kota yang cukup tertata dan tenang. Pusat kota atau Central Business District (CBD) dipenuhi bangunan-bangunan modern, taman kota yang asri, serta jalanan yang relatif bersih dan teratur. Meski tak semewah kota-kota besar dunia, suasana Harare terbilang lapang dengan nuansa slow living yang masih terasa.
Meski Bank Dunia mencatat bahwa Zimbabwe termasuk negara termiskin di dunia, gambaran di lapangan tidak sepenuhnya mendukung klaim tersebut. Di jalanan Harare, lalu lintas relatif lancar, tidak ditemukan gelandangan, dan tidak banyak pengemis. Bahkan, sebagian besar warga terlihat hidup dengan layak, meski tidak mewah.
“Yang menarik, di negara yang katanya miskin ini justru banyak mobil 4x4 dan hampir tidak ada sepeda motor,” ujar sang pelancong.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.