MENU
Konflik Iran Buat The Fed Sulit Menentukan Arah Suku Bunga 2026
WA FB
Berita

Konflik Iran Buat The Fed Sulit Menentukan Arah Suku Bunga 2026

R Editor : Redaksi Sinata | 04 Mar 2026 | 17:15 WIB
Konflik Iran Buat The Fed Sulit Menentukan Arah Suku Bunga 2026
the fed (1)

Jakarta, Sinata.id — Ketidakpastian ekonomi global semakin memuncak akibat konflik yang berkecamuk di kawasan Timur Tengah. Para pejabat di Federal Reserve System (The Fed), bank sentral Amerika Serikat, menyampaikan bahwa perang antara AS, Israel, dan Iran telah menimbulkan tantangan serius dalam menentukan arah suku bunga acuan di tahun 2026. Pernyataan ini mencerminkan bagaimana gejolak geopolitik kini bukan hanya soal keamanan, tetapi juga berdampak langsung pada kebijakan moneter negara ekonomi terbesar dunia.

Sejak serangan militer AS dan sekutunya terhadap Iran beberapa hari lalu, harga minyak dunia meroket tajam akibat gangguan pasokan energi dan penutupan jalur perdagangan strategis Selat Hormuz. Lonjakan harga energi ini mendorong ekspektasi inflasi naik, yang kemudian memperumit perhitungan The Fed dalam mengatur suku bunga.

“Sebelumnya saya cukup optimis soal kemungkinan pemangkasan suku bunga,” ujar Neel Kashkari, Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis, dalam sebuah pernyataan yang disampaikan di acara konferensi keuangan di New York. Namun, ia menegaskan bahwa perang Iran telah menciptakan shock baru yang membuat rencana tersebut menjadi jauh lebih rumit. “Kita harus melihat… seberapa besar dan seberapa lama dampaknya terhadap ekonomi,” tambahnya.

Sebelumnya, banyak ekonom memperkirakan bahwa The Fed bisa melakukan pengurangan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang seiring tekanan inflasi yang mulai mereda awal tahun ini. Namun, konflik geopolitik yang memperluas spektrum risiko global kini telah mengubah ekspektasi pasar, di mana kemungkinan pemangkasan suku bunga kini dinilai lebih rendah. Data pasar keuangan menunjukkan para investor kini lebih cenderung memperkirakan The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga acuan pada level saat ini karena tekanan harga dari energi tetap tinggi.

Sementara itu, John Williams, Presiden Federal Reserve Bank of New York, menyatakan bahwa masih terlalu dini untuk memastikan dampak perang terhadap perekonomian AS secara menyeluruh. Ia menekankan bahwa AS kini lebih sedikit tergantung pada minyak dibandingkan beberapa dekade lalu, namun tetap mengakui bahwa pergerakan harga energi global dapat memberi tekanan tambahan pada stabilitas harga dan prospek kebijakan moneter.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.