Berdasarkan data Kemenag, posisi hilal pada 19 Maret 2026 diperkirakan berada di ketinggian antara 0 derajat 57 menit hingga 3 derajat 7 menit. Sementara itu, sudut elongasi berkisar antara 4 derajat 32 menit hingga 6 derajat 6 menit.
Dalam kriteria Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), hilal dinyatakan memenuhi syarat apabila memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Artinya, secara perhitungan astronomi, posisi hilal pada tanggal tersebut masih belum sepenuhnya memenuhi kriteria visibilitas. Hal ini membuka kemungkinan adanya perbedaan penetapan Idulfitri antara pemerintah dan Muhammadiyah.
Potensi Perbedaan Lebaran
Dengan adanya perbedaan metode hisab dan rukyat, Idulfitri 2026 berpotensi jatuh pada tanggal yang berbeda. Muhammadiyah menetapkan 20 Maret 2026, sedangkan pemerintah kemungkinan besar menetapkan 21 Maret 2026.
Menyikapi hal ini, Kemenag mengimbau umat Islam untuk bersikap dewasa dan saling menghormati perbedaan yang terjadi dalam penentuan awal bulan Syawal. (A02)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.