Oleh: Pdt Mis Ev Daniel Pardede, MH
Pengakuan Iman Rasuli merupakan salah satu pernyataan iman paling mendasar dalam Kekristenan yang diakui secara luas oleh berbagai denominasi gereja. Pernyataan ini tidak hanya menjadi simbol keyakinan, tetapi juga mencerminkan inti ajaran tentang Allah Tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Dalam pengakuan tersebut, umat Kristen menyatakan kepercayaan kepada Allah sebagai Pencipta langit dan bumi, serta kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah yang tunggal dan Tuhan, yang lahir dari perawan Maria, menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat, dan dikuburkan.
Inti Ajaran: Kematian dan Kebangkitan Kristus
Bagian terpenting dalam Pengakuan Iman Rasuli adalah pernyataan tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Disebutkan bahwa pada hari ketiga, Ia bangkit dari antara orang mati, naik ke surga, dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa.
Kebangkitan ini menjadi dasar pengharapan umat Kristen akan kehidupan kekal. Selain itu, keyakinan bahwa Kristus akan datang kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan mati menegaskan adanya tanggung jawab moral dan iman setiap orang percaya selama hidup di dunia.
Peran Roh Kudus dan Kehidupan Gereja
Pengakuan ini juga menegaskan iman kepada Roh Kudus, yang diyakini hadir dan bekerja dalam kehidupan sehari-hari umat percaya. Roh Kudus dipandang sebagai penolong, penghibur, sekaligus pembimbing dalam menjalani kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Selain itu, terdapat pengakuan terhadap gereja yang kudus dan am (universal), persekutuan orang kudus, pengampunan dosa, kebangkitan tubuh, serta kehidupan kekal. Semua ini menjadi fondasi spiritual yang memperkuat hubungan antarumat dan dengan Tuhan.
[caption id="attachment_37687" align="aligncenter" width="750"] Foto ilustrasi. (istimewa)[/caption]
Iman yang Diuji dalam Kehidupan Nyata
Dalam praktiknya, Pengakuan Iman Rasuli tidak hanya diucapkan secara lisan, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Umat percaya diajak untuk tetap setia, bahkan dalam situasi sulit seperti tekanan sosial, tantangan karier, hingga penderitaan.
Kesetiaan kepada Kristus dipandang sebagai bentuk keteladanan untuk hidup serupa dengan-Nya. Prinsip “menjadi seperti Kristus” menjadi panggilan utama bagi setiap orang percaya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.