Jakarta, Sinata.id – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait memastikan pembangunan ribuan hunian tetap (huntap) bagi korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akan segera dimulai akhir pekan ini.
Menariknya, proyek besar ini sama sekali tidak menyentuh dana APBN.
Langkah taktis ini diambil demi mempercepat pemulihan bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana longsor dan banjir besar yang melanda wilayah Sumatera belakangan ini.
Kolaborasi Kemanusiaan: Dana Pribadi hingga Dukungan Swasta Menteri Ara menegaskan bahwa pembiayaan pembangunan ini berasal dari jalur non-pemerintah. Untuk tahap awal, sebanyak 100 unit rumah akan dibangun menggunakan dana kantong pribadi sang Menteri.
Sisanya, dukungan besar datang dari sektor swasta melalui kolaborasi dengan Yayasan Buddha Tzu Chi di bawah koordinasi pengusaha Sugianto Kusuma (Aguan).
Tim teknis dari pihak donor pun dilaporkan sudah turun ke lapangan untuk meninjau lokasi pembangunan.
"Negara dan rakyat ingin membantu, jangan sampai aturan birokrasi menjadi penghalang. Presiden sudah instruksikan agar kita bekerja cepat dan mencari solusi atas kendala aturan yang ada," kata Ara di Jakarta, Rabu (17/12).
Peta Pembangunan dan Target Wilayah Berdasarkan data awal, sebaran pembangunan rumah akan difokuskan pada beberapa titik strategis yang lahannya sudah dinyatakan siap (clear and clean):
Provinsi Aceh: Dialokasikan sekitar 1.000 unit rumah di dua titik lahan milik Kementerian Agama.
Sumatera Utara: Mencakup Tapanuli Tengah (100 unit), Sibolga (200 unit), dan Tapanuli Selatan (103 unit).
Sumatera Barat: Masih dalam tahap finalisasi alokasi data dan persiapan lahan.
Menteri Ara mengimbau pemerintah daerah untuk segera memastikan ketersediaan lahan milik Pemda maupun kementerian/lembaga terkait agar pembangunan tidak tersendat.
Tantangan Verifikasi 112 Ribu Rumah Rusak Meski pembangunan unit baru sudah di depan mata, Kementerian PKP masih dihadapkan pada tugas berat lainnya: memverifikasi 112.551 rumah yang terdampak bencana di seluruh Sumatera.
Menteri Ara menjelaskan bahwa klasifikasi kerusakan (ringan, sedang, berat, hingga hilang terbawa arus) menjadi kunci dalam menentukan kebutuhan anggaran ke depannya.
"Mensurvei ratusan ribu rumah secara akurat bukanlah perkara mudah. Kami harus memastikan data di lapangan tepat agar Rencana Anggaran Biaya (RAB) benar-benar sesuai sasaran. Termasuk memikirkan rencana relokasi bagi warga yang wilayahnya sudah tidak aman untuk ditinggali," ujarnya. []
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.