Jakarta, Sinata.id - Agar pemulihan pascabencana terkoordinasi, cepat dan berkelanjutan, Presiden RI tunjuk Mendagri Tito Karnavian untuk memimpin komando pemulihan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pascabencana.
Keputusan Presiden menunjuk Tito Karnavian bukan tanpa alasan kuat. Kata Mensesneg, Prasetyo Hadi, kapasitas Mendagri sangat krusial dalam mengkoordinasikan daerah-daerah yang terdampak luas.
“Dalam kapasitas beliau sebagai Menteri Dalam Negeri, Presiden memiliki pertimbangan dan meyakini bahwa di bawah mendagri dapat dikoordinasikan lebih baik,” tutur Prasetyo belum lama ini.
Satgas pemulihan ini disiapkan untuk bergerak cepat dan responsif. Menko PMK Pratikno ditunjuk sebagai Ketua Dewan Pengarah, sementara Wakil Ketua Satgas diemban oleh Letjen TNI Richard Tampubolon.
Formasi itu dirancang untuk mempercepat pengambilan keputusan serta menghilangkan hambatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Target utamanya adalah memastikan masyarakat segera keluar dari pengungsian dan mulai menata kembali kehidupan yang lebih aman dan berdaya tahan.
Saat ini, fokus utama satgas diarahkan pada pembangunan Hunian Sementara (Huntara) dan Hunian Tetap (Huntap). Kementerian Pekerjaan Umum telah melakukan pendataan serta pemetaan tingkat kerusakan.
Prasetyo menjelaskan, untuk kategori rumah rusak ringan dan sedang, pemerintah akan mengonsolidasikan bantuan agar warga dapat memperbaiki tempat tinggalnya secara mandiri dan kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.
Tak hanya kementerian teknis, dukungan juga datang dari unsur kepolisian yang turut berperan dalam pembangunan hunian bagi masyarakat terdampak.
Sejumlah kementerian dan lembaga lainnya pun ikut terlibat aktif, termasuk Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia, dalam mendukung percepatan penyediaan tempat tinggal layak.
Prasetyo menegaskan, keberadaan satgas menjadi instrumen penting untuk memastikan seluruh tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan terpadu.
Dengan koordinasi yang solid, pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat diharapkan dapat terlaksana secara efektif, terukur, dan berkelanjutan.
Walau berada dalam satu kerangka kerja satgas, proses pemulihan di masing-masing daerah menunjukkan dinamika yang berbeda.
Aceh, misalnya, masih menghadapi tantangan besar. Hingga saat ini, endapan lumpur tebal serta material kayu berukuran besar masih menutup sejumlah kawasan permukiman.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.