Oleh: Dian Fitriah Dosen STAI Samora
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Alhamdulillahi rabbil 'alamin, washshalatu wassalamu 'ala asyrafil anbiya'i wal mursalin, sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in.
Di era digital dan kompetisi kerja yang semakin ketat ini, banyak dari kita yang meraih prestasi gemilang. Namun, tahukah Anda bahwa kesuksesan itu bisa menjadi jebakan?
Ada fenomena psikologis yang disebut Star Syndrome atau sindrom bintang. Ini adalah kondisi di mana seseorang merasa diri superior setelah meraih pencapaian, sehingga sombong, enggan belajar lagi, dan kinerjanya justru menurun.
Bayangkan seorang karyawan berprestasi yang tiba-tiba merasa "saya sudah paling hebat", sehingga malas berinovasi, cuek terhadap masukan rekan, dan akhirnya gagal total.
Star Syndrome bukan sekadar kesombongan biasa, tapi gangguan psikologis yang merusak profesionalitas.
Menurut psikolog seperti Albert Bandura, ini muncul dari overconfidence effect, di mana ego membutakan realitas. Di tempat kerja, ini berdampak fatal: produktivitas turun, tim tercerai-berai, dan karir mandek.
Islam mengingatkan kita agar tidak jatuh ke dalamnya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Isra ayat 37:" Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan melobangi bumi dan engkau tidak akan menjulangi gunung tingginya." (QS. Al-Isra: 37).Ayat ini tegas melarang kesombongan yang lahir dari prestasi palsu.
Dampak Star Syndrome terhadap Profesionalitas yang menjunjung tinggi komitmen untuk bekerja secara konsisten, berkualitas, dan berorientasi pada tim. Namun, Star Syndrome meracuni elemen-elemen ini.
Pertama, hilangnya motivasi belajar. Orang dengan sindrom ini berpikir "saya sudah tahu segalanya", sehingga stagnan.
Kedua, konflik interpersonal. Mereka merendahkan orang lain, menciptakan toxic workplace.
Ketiga, penurunan performa jangka panjang. Data dari Harvard Business Review menunjukkan, 70% pemimpin yang sombong gagal dalam 18 bulan pertama.
Di Indonesia, survei Kementerian Ketenagakerjaan 2024 mencatat, 45% karyawan berprestasi mengalami burnout akibat overconfidence ini.
Bayangkan dampaknya di sektor pendidikan atau bisnis: guru yang sombong tak lagi inovatif, pengusaha yang egois bangkrut. Rasulullah SAW bersabda:
"Tidaklah seseorang dimasukkan ke dalam neraka karena selain kesombongannya terhadap agama dan bangsanya." (HR. Muslim). Ini peringatan bahwa kesombongan merusak kinerja dunia-akhirat.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.