MENU
πŸ“Siantar πŸ“Simalungun πŸ“Medan πŸ“Singkil πŸ“Taput πŸ“Sibolga
Mengkonstruksi Ruang Publik Beradab di Era Polarisasi Digital
WA FB
Kolom

Mengkonstruksi Ruang Publik Beradab di Era Polarisasi Digital

G Editor : Gunawan Purba | 02 Jan 2026 | 11:10 WIB
Mengkonstruksi Ruang Publik Beradab di Era Polarisasi Digital
Zanniro Sururi Hasibuan M.Sos

Oleh: Zanniro Sururi Hasibuan M.Sos Dosen STAI SAMORA Pematangsiantar

Hidup manusia saat ini kebanyakan diawali dengan membuka gawai dan langsung terpapar sunami informasi, berita viral, meme politik, hingga perdebatan sengit di kolom komentar.

Media sosial yang tadinya menjanjikan demokrasi digital, kini justru menjadi arena gladiator modern tempat orang saling serang dengan kata-kata tajam.

Polarisasi bukan sekadar perbedaan pendapat, namun jurang yang semakin dalam memisahkan kelompok masyarakat hingga sulit menemukan titik temu.

Algoritma media sosial memperparah kondisi ini dengan mengurung manusia dalam filter bubble gelembung informasi yang hanya menampilkan konten sesuai preferensi.

Hasilnya, hanya mendengar gema pendapat sendiri, sementara suara berbeda dianggap menjadi ancaman. Fenomena ini menciptakan paradoks berbahaya, di era ketika informasi seharusnya membebaskan, justru terpenjara dalam silo-silo ideologis.

Seseorang yang mendukung kebijakan A tidak lagi sekadar berbeda pandangan dengan pendukung kebijakan B, tetapi dianggap musuh yang harus dilawan.

Dampaknya terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pertemanan retak karena perbedaan politik. Keluarga terbelah akibat pilihan pemimpin yang berbeda. Diskusi publik berubah menjadi pertarungan ego, bukan pencarian kebenaran.

Yang lebih mengkhawatirkan, narasi kebencian menemukan lahan subur di tengah polarisasi ini, diperparah dengan lontaran pupuk yang mengandung ego yang tidak ingin kalah dan merasa pendapatnya paling benar. Hal ini membuat digital enviroment menjadi ketakutan bagi sebagian orang ataupun sebaliknya.

Namun, kita tidak boleh menyerah pada determinisme teknologi. Ruang publik yang beradab tetap bisa dibangun, bahkan di tengah gempuran digital. Kuncinya adalah mengembalikan prinsip-prinsip dasar dialog yang konstruktif.

Ketika seseorang berbeda pendapat, alih-alih langsung melabeli mereka sebagai bodoh, tersesa, atau tidak rasional cobalah bertanya dengan tulus. Mengapa ia berpikir demikian? Pengalaman apa yang membawanya ke kesimpulan ini?

Empati bukan berarti kita harus setuju dengan pandangan yang bertentangan dengan nilai kita, tetapi mengakui bahwa di balik setiap keyakinan ada manusia dengan narasi hidupnya sendiri yang sama kompleksnya dengan kita.

Dalam praktiknya, ini berarti menahan refleks defensif yang dimiliki, mengesampingkan ego sejenak, dan memberi ruang bagi kemungkinan bahwa tidak memiliki gambaran lengkap.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.