Harapannya manusia mampu akan perbedaan pikiran/ide, pengetahuan, budaya, agama atau perbedaan lainnya.
Mengkonstruksi ruang publik yang beradab di era polarisasi digital adalah jihad peradaban yang dimulai dari diri sendiri ketika memilih untuk memverifikasi sebelum menyebarkan, menahan jari dari mengetik kata-kata yang melukai, berani mengakui kesalahan dan belajar dari sudut pandang berbeda.
Setiap individu yang memilih keberadaban adalah benih perubahan dalam ekosistem digital yang lebih besar. Polarisasi mungkin tidak akan hilang sepenuhnya, tetapi tidak harus mendefinisikan dan memahami ego manusia itu sendiri.
Masa depan ruang publik bergantung pada pilihan dan keputusan yang dibuat. Akankah menjadi agen perpecahan yang dimanfaatkan algoritma, atau menjadi pembangun jembatan yang mengembalikan makna sejati dari media sosial sebagai ruang bersama untuk saling memahami, bukan saling menghancurkan. (*)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.