Oleh: PS Dion Panomban
Menjelang ibadah Minggu, Abba Home Family kembali mengarahkan jemaat untuk menenangkan hati melalui saat teduh pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Renungan ini menegaskan Firman Tuhan sebagai dasar kehidupan orang percaya, sebagaimana dinyatakan dalam Yohanes 1:1–4 bahwa Firman telah ada sejak semula, bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah. Di dalam Dia ada hidup, dan hidup itu adalah terang manusia. Kebenaran ini mengajak setiap orang percaya untuk merenungkan mengapa Firman disebut sebagai hidup dan terang, serta apa dampaknya apabila Firman tidak sungguh hadir dan dihidupi dalam keseharian.
Firman Tuhan kemudian mengingatkan tentang kepastian hari Tuhan yang akan datang seperti pencuri.
Gambaran ini menekankan bahwa kedatangan Tuhan terjadi secara tiba-tiba dan menuntut kewaspadaan iman. Rasul Petrus menjelaskan bahwa pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat, unsur-unsur dunia akan hangus, dan bumi beserta segala isinya akan hilang. Kenyataan ini membawa perenungan serius: jika segala sesuatu akan hancur, di manakah manusia menaruh harapan dan sandaran hidupnya?
Kesadaran akan kefanaan dunia menuntut sikap hidup yang benar.
Firman Tuhan menegaskan bahwa orang percaya dipanggil untuk hidup suci dan saleh. Hal ini menuntun refleksi tentang bagaimana seharusnya sikap hidup dijalani saat ini, agar iman tidak hanya menjadi pengakuan, melainkan tercermin dalam ketaatan dan perbuatan sehari-hari.
Lebih lanjut, Firman Tuhan menyatakan bahwa orang percaya bukan hanya menantikan, tetapi juga mempercepat kedatangan hari Allah. Pernyataan ini menegaskan bahwa kehidupan yang taat, benar, dan berkenan kepada Tuhan merupakan wujud nyata partisipasi orang percaya dalam rencana-Nya, sekaligus menjadi kesaksian iman di tengah dunia.
Firman Tuhan juga memberikan pengharapan akan janji langit dan bumi yang baru, tempat kebenaran berdiam. Dalam penantian akan janji tersebut, orang percaya diajak merenungkan bagaimana hidup yang berkenan kepada Tuhan seharusnya dijalani, yakni hidup tak bercacat, tak bernoda, serta berada dalam perdamaian dengan Dia. Seluruh perenungan ini akhirnya bermuara pada pertanyaan pribadi yang mendalam: sudahkah setiap orang hidup dalam kekudusan, perdamaian, dan kesiapan iman apabila Tuhan datang pada saat yang tidak terduga?
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.