MENU
📍Siantar 📍Simalungun 📍Medan 📍Singkil 📍Taput 📍Sibolga
Menkes Kaget! Skrining Hepatitis di Indonesia Baru 10 Persen, 70 Juta...
WA FB
Nasional

Menkes Kaget! Skrining Hepatitis di Indonesia Baru 10 Persen, 70 Juta Orang Diperkirakan Terpapar

T Editor : Tigor Munthe | 02 Jun 2026 | 17:03 WIB
Menkes Kaget! Skrining Hepatitis di Indonesia Baru 10 Persen, 70 Juta Orang Diperkirakan Terpapar
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. (Foto: Ist)

JAKARTA, Sinata.id  – Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyoroti masih lebarnya kesenjangan penanganan penyakit hati kronis di Indonesia dibandingkan target yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO), khususnya dalam aspek deteksi dini dan akses pengobatan.

WHO menargetkan 90 persen penderita hepatitis dapat ditemukan melalui skrining dan 80 persen di antaranya memperoleh tata laksana medis yang memadai.

Namun, capaian Indonesia saat ini masih jauh dari target tersebut.

“Gap-nya masih sangat besar,” kata Budi dalam dialog kesehatan Solid Habit Strong Liver di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Menurut Menkes, angka skrining hepatitis di Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 10 persen.

Sementara itu, akses pengobatan bagi penderita hanya berada pada kisaran 1 hingga 5 persen.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut menjadi tantangan serius mengingat jumlah penduduk yang diperkirakan terpapar hepatitis di Indonesia mencapai sekitar 70 juta jiwa.

Rendahnya angka klaim layanan kesehatan juga menunjukkan masih banyak kasus yang belum teridentifikasi dalam sistem kesehatan nasional.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah terus memperkuat strategi promotif dan preventif yang dinilai lebih efektif dibandingkan pendekatan kuratif.

Sejumlah langkah telah dilakukan, di antaranya pemberian vaksinasi Hepatitis B bagi tenaga kesehatan sejak 2023.

Pemerintah juga menjalankan program profilaksis bagi ibu hamil sejak 2024 melalui pemberian antivirus Tenofovir (TDF) guna mencegah penularan hepatitis dari ibu kepada bayi.

Selain itu, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) diperluas pada 2025 untuk meningkatkan cakupan skrining nasional.

Pada 2026, pemerintah menargetkan skrining dapat menjangkau hingga 136 juta penduduk.

“Pemeriksaan mencakup HBsAg serta deteksi dini fibrosis hati menggunakan metode APRI berbasis tes darah,” ungkapnya dikutip dari InfoPublik.

Pemerintah juga memperkuat upaya pencegahan melalui kebijakan pelabelan gizi untuk mengendalikan konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang menjadi salah satu faktor risiko penyakit hati berbasis metabolik.

Secara global, penyakit hati kronis telah menyerang lebih dari 300 juta orang dan menyebabkan sekitar 2 juta kematian setiap tahun atau hampir empat kematian setiap menit.

Budi menegaskan pentingnya deteksi dini karena penyakit hati berkembang secara bertahap, mulai dari peradangan, fibrosis, sirosis hingga kanker hati. Karena itu, percepatan skrining menjadi langkah penting untuk menghentikan perkembangan penyakit sejak tahap awal.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.