“Orang dengan komorbid tentu lebih berisiko mengalami keparahan maupun kematian akibat influenza,” ujarnya, Sabtu (10/1/2026).
Menurut Dicky, risiko tersebut tidak hanya berlaku pada super flu, tetapi juga pada influenza musiman dan penyakit infeksi lain seperti Covid-19. Kondisi ini disebabkan oleh melemahnya respons imun pada penderita komorbid.
Selain itu, pasien dengan komorbid umumnya memiliki cadangan fungsi organ yang lebih rendah. Ketika influenza menyerang sistem pernapasan, tubuh lebih sulit mengompensasi stres akibat infeksi sehingga rentan mengalami hipoksia hingga kegagalan organ.
Influenza berat juga dapat memicu inflamasi sistemik berlebihan atau badai sitokin, yang pada pasien dengan komorbid dapat meningkatkan risiko kegagalan multiorgan dan kematian.
Data RSHS Bandung
Pihak RSHS Bandung melaporkan telah menangani 10 pasien positif Influenza A H3N2 subclade K dari berbagai kelompok usia, mulai dari bayi hingga usia 60 tahun. Dari jumlah tersebut, satu pasien dinyatakan meninggal dunia.
“Dengan kondisi penyakit penyerta yang sangat berat tersebut, kami tidak dapat menyatakan bahwa kematian ini disebabkan langsung oleh virus super flu,” pungkasnya. (A02)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.